Kisah Tua yang Diceritakan Kembali
Saat kuraih juara satu di semester dua kelas tiga, semua orang memberi hadiah. Ya. Semua orang yang kukenal sebagai orang baik dan orang tak baik. Yang baik adalah Ayah, Ibu, Nenek, Pak Min tetangga yang menjual donat dan selalu memberiku donat sisa, Tante Lia yang cerewet minta ampun sampai-sampai anaknya sering bertanya apakah mamanya itu tak capek terus-terusan mengoceh, sahabat-sahabatku, bukan sahabat-sahabatku, teman menangkap belalang, teman satu tempat mengaji, bahkan kucing jelek peliharaanku. Yang tak baik dan menjadi satu-satunya adalah si Dio, yang selalu melempariku dengan kerikil tiap kali aku lewat di depan rumahnya. Tak bisa kuhindari, tak ada jalan lain menuju sekolah. Dia tak sekolah, dia membantu ibunya memulung, tapi dia tahu jam berapa aku berangkat dan jam berapa aku akan pulang. Dia akan di sana, berjongkok di depan pohon rambutan sambil menggenggam kerikil. Hadiah-hadiah itu kuterima dengan tangan. Untuk hadiah dari Dio, kugunakan tangan yang sama untuk melempari yang dia beri, dan tepat mengenai bahunya bagian kiri. Rasakan sakitnya!
Tapi, hadiah dari nenekku, kuterima dengan telinga dan hati.
Sore itu langit basah. Aku dan nenek duduk di teras rumah. Kupamerkan apa-apa yang kuterima sebagai hadiah sang juara (hadiah dari Dio jelas sudah tak ada, lagipula apa pentingnya sebuah kerikil untuk dipamerkan). Nenek terkekeh melihat ekor cicak yang dibawakan Momow padaku, lebih terkekeh lagi saat kukatakan kucing itu memberikannya dengan ngos-ngosan. Kata Nenek, Momow kucingku itu sudah bertarung mati-matian untuk satu ekor cicak. Sebab itulah rencanaku untuk membuangnya jadi urung. Bagaimana mungkin kusia-siakan perjuangan seekor kucing? Bisa saja, kan, cicaknya enggak cuma satu tapi dua puluh dan semuanya menyerang Momow tapi Momow hanya mampu membawa satu hasil dari pertarungan yang kubayangkan megah dan sengit. Dan memang, sejak kuterima ekor cicak putus itu, jelek Momow terlihat menjadi-jadi.
Sekalipun harus kujawab pertanyaan Nenek saat cerita berakhir, tapi Nenek sudah melemparkan pertanyaan itu sebelum cerita dimulai.
“Coba tebak, siapa sebenarnya yang salah?”
Dan karena itu, kucondongkan tubuh. Tak membiarkan satu kata pun tak terdengar sebab gemuruh mulai ikut andil menggganggu konsentrasi.
Dulu, kata Nenek, ada seorang kaya raya yang menguasai satu daerah.
Dongeng. Oke. Nenek mulai berdongeng.
“Saudagar Tua orang-orang menyebutnya.” Nenek mengangguk-angguk seperti mengingat sekaligus meyakinkan dirinya akan sesuatu.
Rumahnya besar dan mewah. Kebun, macam-macam taman, sawah, tanah kosong, tanah terpakai, tanah tak kosong, entah berapa banyak dan tak ada yang mampu mengira-ngira termasuk pekerjanya. Pekerjanya sendiri sebenarnya juga tak terkira berapa jumlahnya. Tak ada di antara mereka yang menghitung-hitung satu sama lain. Hanya Saudagar Tua yang tahu. Itu yang diyakini mereka dan, yang lebih penting, mereka hidup damai tanpa saling bertentangan satu sama lain.
“Tahu tugas masing-masing. Tahu diri,” begitu kata Nenek.
Pekerja itu terbagi menjadi dua. Kelompok pemelihara mengerjakan tugas-tugas merawat rumah besar dan mewah, kebun, macam-macam taman, sawah, tanah kosong, tanah terpakai, tanah tak kosong. Satunya lagi, juga kelompok ini dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi sebab mereka mengawasi kelompok pemelihara bekerja, adalah kelompok mandor. Mereka terdiri dari bendahara, penasihat, juga penjaga. Kedua kelompok pekerja itu menggunakan waktunya, tubuhnya, pikirannya, segala apa yang berputar di sekitarnya hanya untuk bekerja dan menyenangkan si pemilik harta. Mereka mengangung-agungkan Saudagar Tua. Saudagar Tua senang diagung-agungkan.
Sekalipun begitu, saudagar sungguh baik. “Tak ada diri selain aku yang mengasihi kalian seperti aku,” lakon Nenek menirukan Saudagar Tua. Berdiri berkacak pinggang, dengan tubuh bungkuk yang sengaja digagah-gagahkan. Aku terkikik melihat Nenek, langit pun, terdengar dari gelagar-gelagar beruntun setelah itu.
Memang benar, kata nenek. Pekerja itu hidup nyaman. Tak ada pertengkaran. Tak ada perebutan. Tak kekurangan. Tak berlebih-lebihan.
“Akan terus begini jika kaliah hanya tunduk dan bertuan padaku.” Nenek mengulangi lakonnya dengan gaya yang sama. Tapi kali ini, karena sudah melihat sebelumnya, sudah berkurang lucunya. Aku tidak terkikik, langit pun.
Setiap saat Saudagar Tua mengucapkan itu seolah-olah tak ingin pekerja lupa. Tapi sesungguhnya bagaimana akan lupa, kata-kata itu sudah menghujam jantung, menusuk otak, dan membenam di hati dengan cara paling lembut dan lunak. Mereka tunduk pada Saudagar, sujud dengan ikhlas tiap-tiap tak sedang dalam embanan pekerjaan.
Hanya untuk saudagar.
Hanya pada Saudagar Tua yang baik hati dan paling mengasihi.
Dahi mereka menyentuh tanah pun tak pernah menjadi soal.
Mereka tahu diri. Mereka berbakti.