Menu Spesial Kedai di Ujung Gang
Ada satu kedai makan di ujung gang yang menjual lontong dan nasi goreng. Buka hanya dua waktu saja dari Senin sampai Sabtu: setelah Subuh dan setelah Maghrib. Targetnya jelas. Saat subuh ialah anak-anak sekolah yang masuk pukul tujuh dan pekerja kantoran yang absen pagi dan setelah maghrib kebanyakan yang datang dari kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu yang baru saja solat di musola. Masakannya biasa saja, yang spesial adalah harga dan porsinya. Dua hal itulah yang penting bagi warga gang kalau urusan beli-membeli makan. Kantong gak jebol, perut gak kosong melompong. Tiga anak SMP bisa kenyang hanya dengan satu porsi nasi goreng. Pegawai kantoran membeli banyak untuk kemudian dijual kembali dengan harga sesuai porsi di kantor mereka. Kak Ucut begitu.
“Nyari uang jajan lain, dong! Mana cukup hidup dari gaji yang kejar-kejaran sama batas UMR!” katanya padaku saat kulirik kresek merah besar yang bengkak oleh nasi goreng dalam bungkus kertas kecoklatan dan diikat karet.
“Lima belas kali lima. Berapa tuh, ya?” Kak Ucut mengerutkan dahi.
“Tujuh lima!” sahut Tek Pat. “Otaknya tinggal ya pas lulus kemarin?”
Candaan Tek Pat dibalas kekehan ringan Kak Ucut saat menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribu.
Ya, nama pemilik kedai ini Fatimah. Kemudian warga, mau tua-muda, anak-anak, dewasa, laki-laki atau perempuan memanggilnya Etek Pat. Etek dalam budaya Minang berarti adik ibu. Etek sama dengan ketek. Ketek berarti kecil. Si kecil maksudnya.
Benarkah Tek Pat usianya paling kecil diantara ibu-ibu kami? Tak ada yang tahu. Kata Mama, Tek Pat sudah di lingkungan ini saat Mama jadi warga baru menempati kontrakan mungil setelah menikah dengan Papa. Yang semua orang tahu adalah Tek Pat tak menikah dan tak pernah menikah. Itulah sebabnya jika ada suami yang ditinggal mati istri, warga mulai sibuk menjodoh-jodohkannya dengan si duda baru. Lebih sering kegiatan jodoh-jodohan itu datang dengan candaan saja. Suit-suit! Tek! Pak Rusli lewat, Tek! Begitulah huru-hara di kedai Tek Pat selama seminggu atau setidaknya dua minggu setelah si istri dikuburkan. Lalu hilang. Tak ada lagi suit-suitan.
Kukatakan lebih sering bercanda, bukan berarti tak pernah serius. Kata Mama, Tek Pat pernah mangamini kawin dengan duda baru. Kata Tante Neng, tetanggaku, waktu itu duda baru di lingkungan kami adalah Pak Zainul yang istrinya wafat di tanah suci. Kata warga karena kualat. Umrah enggak ajak-ajak suami!
Yang cerita Pak Zainul dulu itu aku tak tahu karena hari-hariku sudah dipusingkan oleh PR matematika kelas dua SD. Yang sekarang ini, kuikuti kisahnya karena tak lagi pusing oleh PR matematika dan PR mata pelajaran lain karena memang tak kukerjakan, dan di usia memasuki SMP kelas tiga ini aku sibuk berkeliaran di daerah rumahku, duduk di kedai jajanan hingga petang menonton YouTube bersama dua orang temanku untuk berteriak-teriak mengagumi laki-laki putih kilap yang hobi nari-nari dan nyanyi-nyanyi berbahasa Korea. Di kedai itulah sering kudengar perkumpulan ibu-ibu mengobrol tentang Tek Pat dan Bang Jal.
Begini. Bang Jal masih muda. Segar bugar dengan tubuh tinggi berisi. Seharusnya usia pernikahannya sudah sembilan tahun, tetapi hanya dua tahun pertama dia hidup bersama-sama istrinya. Tujuh tahun setelahnya dia sendirian karena istrinya merantau ke pulau seberang dan hanya pulang seminggu sebelum lebaran dan berangkat lagi seminggu setelah lebaran. Di Sabah, kata orang-orang. Kelak kuketahui Sabah itu nama satu kota di Malaysia. Dua tahun terakhir ini istri Bang Jal tak pulang. Bang Jal bilang karena tak diizinkan tuan. Sayangnya, kelit Bang Jal masih kalah gesit dari motor beat-nya.
“Masih sering video call kok!”
“Dia kemarin kirimkan uang untuk perbaiki genteng. Kami masih telpon-telponan!”
“Dia lagi sibuk aja. Nyonya rumah itu melahirkan. Dia kerjaannya nambah, selain urus rumah dia juga sekarang urusin bayi!”
Bayi dia sendiri! Begitu kata warga. Warga di gang ini lihai benar menyimpulkan perkara. Tapi anehnya selalu terbukti benar biarpun bukti itu datang bertahun-tahun kemudian. Tak sekali dua kali begitu. Termasuk masalah bayi yang lahir di Sabah itu. Fakta bahwa istri Bang Jal telah dihamili sesama pembantu di salah satu kawasan elit di kota pulau seberang tertimbun oleh fakta sedih lainnya: Bang Jal yang mengurung diri meratapi nasib sebagai suami gantung.
Hari-hari murung itu banyak dia habiskan dengan duduk makan lontong tiap subuh sehabis solat dan tiap Maghrib sehabis pulang kerja. Motor beat hitam-merah itu terparkir di kedai Tek Pat cukup lama. Kadang lewat dari Isya, kadang lewat tengah malam, kadang Tek Pat ikut-ikutan tak tidur mendengarkan curhatan si suami gantung. Yang diceritakan Bang Jal itu-itu saja, yang diangguk-anggukkan Tek Pat juga kisah itu-itu saja.
Orang-orang yang melihatnya mulai menjodoh-jodohkan Tek Pat dengan Bang Jal. Bahkan beberapa ibu-ibu yang bersamaan denganku membeli lontong, sering kudengar mengasihani Bang Jal kepada Tek Pat.
“Cuma sama Etek dia mau ngomong-ngomong. Sama kami enggak.”