yang kita diamkan di antara suara bising

HELLOHAYDEN
Chapter #4

Menjaga Api Tetap Biru

Menjaga Api Tetap Biru

Selamat!

Gatal bibirmu ingin mengucapkan ketika melihat ayahmu terbaring menempel lekat di kasur yang sejak dulu kamu ingat selalu bersih, wangi, dan empuk, kini justru kebalikannya: Busuk dan buruk. 

Kamu sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali kamu bertanya-tanya, kenapa harus semengecewakan ini? Tapi kamu ingat, kamu justru menantikaan kekecewaan selanjutnya. Oh, betapa hangatnya kebohongan yang baru saja ia ucapkan. Betapa sejuknya angin malam yang menerpa punggungmu saat ia terlambat dan nyaris lupa menjemputmu. Dan kesunyian, ah, sunyi yang rapi, sunyi yang tenang, dan sunyi yang teratur ketika teman-temanmu telah pulang dan langit jingga menjadi saksi bahwa kamu tak sendirian, lagi. Tak semua remaja punya waktu tenang, kan? Kamu dapat terlalu banyak malahan.

Juga senang sekali rasanya di setiap perlombaan yang kamu ikuti, tak ada seorang pun hadir untuk memelukmu ketika kamu menang atau justru menghiburmu saat kamu kalah. Tak perlu menghibur, menahan malu pun tak masalah. Tapi kenyataannya kamu selalu menang karena kamu selalu tanpa beban melakukannya. Sorak-sorai kejuaraan bagiku berarti keheningan lain dan telah menjadi lagu lama yang selalu kamu suka. Kamu menyadari satu hal: kekecewaan memiliki kalau tidak bunyi, maka bau, atau justru suhu tertentu. 

Kamu marah, kamu mulai berisik dan kamu meledak-ledak. Pada mulanya memang begitu. Tapi tak ada yang berubah. Permintaan maaf yang kamu terima lama-lama membuatmu terlihat berlebihan. Mengecilkan perasaanmu. Mengabaikan segala kecewa. Lalu kamu, daripada menjadi api merah, lebih memilih menjadi api biru. Marah menampakkan kelemahanmu, tapi dendam, jelas membangun kekuatanmu. Begitulah api biru: stabil, tak berjejak meskipun lebih panas. Sempurna. Efisien.

Jangan, katamu dalam kepala sejak sepuluh tahun lalu.

Lihat selengkapnya