Maulin Memilih Buta Saja
Malam ketika baru pulang dari kedai makan, pesan dari Maulin masuk. Deretan huruf yang dikirimkan temanku itu mengatakan dia ingin mencongkel kedua matanya dengan sendok makan. Dua minggu lalu dia juga mengirim pesan, ingin pulang kampung. Tapi sampai hari ini dia masih di sini, tak ke mana-mana bahkan masih di rumahnya. Jadi tak kutanggapi dengan sungguh-sungguh pesannya. Kupikir, seperti sebelumnya, dia hanya berkeluh-kesah dengan iseng saja. Petakanya, aku telah salah. Jelas Maulin tak bisa pulang kampung karena dia tak punya kampung. Kakeknya, ayah dari kakeknya, Ayah, ibunya, dan dia sendiri lahir di sini. Tapi jelas Maulin bisa mencongkel matanya; dia punya mata dan dia punya sendok makan. Maka begitulah, Minggu siang saat perjalanan pulang dari rumah sakit setelah menengok keadaannya, anak sulung Maulin yang masih SMP kelas dua, berlari mengejarku, menanyakan kenapa bapaknya nekat buta.
Aku hanya bisa menggaruk-garuk pelipisku dengan telunjuk. “Dia tak mencongkel lidahnya. Kau tanya saja padanya.”
“Perkara uang dua puluh juta itu, Pak?” tanyanya agak ngotot sambil menyamai langkahku.
Cepat-cepat kupalingkan wajah ke kiri, menyembunyikan keterkejutanku atas pertanyaan anaknya itu, menatap deretan pohon pisang yang kami lewati. Diam saja dan tak hendak banyak bicara pada salah satu muridku sambil mengira-ngira dari mana dia dengar kesusahan bapaknya mengenai uang dua puluh juta. Pendidikan Kewarganegaraan yang kuajar di kelasnya akan sangsi dia terima jika saja kujawab apa adanya dan sebenar-benar perkara kenapa Maulin temanku menandaskan kemampuan penglihatannya yang terang benderang.
Masih teringat olehku Maulin kecil yang selalu senang dan menang bermain adu gundu, bahkan membuat si Bandit meraung-raung sembari tangannya bergetar menyerahkan sekantong besar gundu dengan kilau warna langka yang disombongkannya. Kata guru ngaji kami dulu, main gundu serupa latihan kehidupan; satu sentilan keputusan bisa sangat-sangat menentukan, kadang lain, kita yang tersentil karena keputusan lawan. Waktu itu Maulin mengangkat tangan, dia menyela. Dia sebut main gundu tak selalu tentang sentilan, tanah juga menjadi biang. Kadang tanah berlubang, kadang terlalu lunak, kadang tak rata. Kurasa waktu itu harga dirinya sebagai juara utama terparut karena tak diberi podium bicara tentang permainan yang dia besar diri karenanya. Biarpun bahunya ditepuk dengan bangga oleh guru itu, nyatanya apa yang dikatakan Maulin tentang tanah benar-benar sahih.
Tak selang berapa lama, guru ngaji kehilangan lima muridnya sekaligus. Maulin yang anak bungsu mendadak menjadi anak tunggal. Perkaranya? Tanah.
Saat kami berkumpul dan bersorak-sorak menyaksikan Maulin melawan Bandit bermain gundu di ronde kedua, tiba-tiba saja terdengar ledakan kuat. Jantungku waktu itu rasanya benar-benar dihantam oleh suara gelegar. Kami meninggalkan arena gundu, berlari dan berhambur-hamburan di sekitaran kebun palawija menuju arah suara. Di sana kusaksikan sendiri teman-teman kami terkapar berdarah-darah. Tewas dengan ngenas. Maulin tunggang-langgang menuju salah satu orang dengan genangan dara cukup banyak di sekitarnya, Mas Didit, kakaknya. Gundu di saku celana Maulin terlempar keluar satu per satu karenanya. Aku tak ingat lagi kejadian setelahnya, sebab orang-orang dewasa, termasuk ayahku menarikku dan membentakku untuk pulang.
Beberapa jam kemudian, banyak orang-orang datang membawa kamera besar dan mic. Kabel-kabel alang-melintang di daerah ledakan. Pemandangan ini bertahan hingga berminggu-minggu lamanya. Mereka menyergap siapa saja yang lewat untuk ditanyai macam-macam. Bahkan bapaknya Maulin mendadak jadi artis, begitu kata ayahku satu malam saat kami makan. Kata Ibu, bapaknya Maulin sampai lupa cara bersedih karena acap kali ditanyai mengenai Mas Didit yang sudah terkubur. Waktu itu kami baru berusia tiga belas tapi sudah bisa menangkap bahwa warga tak siap disoroti banyak kamera dan disodorkan mic berbagai ukuran; mereka gelagapan, bahkan ayahnya si Bandit yang selalu menjadi preman kampung dengan suara besar itu tiba-tiba ciut dan gagap jika ditanya penyebab ledakan. Karena tak siap, ucapan warga juga tak selaras. Ada yang bilang kalau yang meledak itu peluru besar, ada yang bilang mortil, ada juga yang mengatakan itu rudal. Tapi jawaban mereka satu untuk pertanyaan milik siapa benda yang meledak itu. Jawabannya: TNI.
Kata Ibu, barang itu tertimbun di tanah dan ditinggalkan TNI yang menggunakan tanah itu untuk latihan militer. Kata Ayah, itu bahkan tanah warga yang berbesar hati dan nyaris serupa pahlawan karena meminjamkan tanah mereka menjadi lahan menempa diri tentara-tentara agar layak melindungi negeri. Bahkan, kalau aku tak salah, Maulin pernah bilang, salah sepetak tanah di sana adalah milik kakeknya. Aku yakin tak yakin, mana ada orang yang dipinjami tanah seenaknya membangun rumah-rumah bercat hijau dan mulai memagari tanah itu seolah miliknya sendiri. Tapi Maulin menyambung, dia katakan supaya warga tak terkena senjata yang sedang mereka uji coba. Lantas rupanya senjata itu sedang coba-coba dengan orang-orang yang sudah berbaik hati pada mereka. Kutanyai Maulin lagi saat menemaninya bekerja, juara umum gundu itu kini pensiun, tak bisa bebas bermain sebab harus menggantikan Mas Didit membantu ayah mereka menambang garam, kenapa kok lima anak itu akhirnya bisa berada di arena latihan. Maulin menaikkan bahunya dengan enggan dan tak acuh, katanya bisa saja sedang lengah pengawasan. Jadi salah siapa? Kenapa orang-orang masih meminjami tanahnya meskipun anak-cucu mereka sendiri menjadi mayat di atas tanah itu? Tapi tak berani kutanyai Maulin, penasaran itu membenam saja di kepalaku.