Tentang yang Lainnya
Bohong belaka podcast si influencer yang mengaku seorang Buddhis itu. Katanya dia dapat memecahkan segala rupa masalah setelah benar-benar menjauhkan dirinya dari kebisingan duniawi. Aku sudah bersungguh-sungguh mencobanya dan berakhir dengan membuktikan kebohongannya. Tapi bisa jadi dia tak sepenuhnya salah juga; mendapatkan keheningan itu amat susah di apartemen reotku. Tetangga kiri dan kananku berisik. Bukan berisik yang disengaja untuk mencari-cari kehebohan, tapi memang berisik karena tekanan hidup dan beban. Tangisan balita itu sudah kunikmati seperti nyanyian. Anak itu hanya cukup minum satu botol dot susu satu hari, sisanya, dengan mata yang dilapisi air mata aku mendengar ibunya berkata, dia memberikan percampuran air gula dan tepung untuk memenuhi lambung kecil itu. Belum lagi tetangga sebelah kiriku, seorang Tionghoa tua yang selalu batuk-batuk tanpa tahu waktu. Tapi kusayangi dia, Akong Wen Long. Di usianya yang sudah senja, dia masih bekerja paruh waktu sebagai petugas kebersihan di satu tempat les musik.
Di antara suara-suara itu, masih kucoba memilah satu demi satu keruwetan hidupku terlebih setelah e-mail dari Bahana, adik laki-lakiku, masuk memberondol sejak beberapa hari lalu. Email itu jalan terakhir yang ditempuhnya setelah puluhan telepon dan pesan-pesannya tidak kugubris. Isinya selalu sama: menyuruhku pulang dengan mengatakan Bapak yang meminta.
Pulang, katanya? Ha-ha!
Bapak siapa? Bapakmu kali. Bapakku, kan, sudah lama mati.
Aku menyeringai saja dan lagi-lagi mengabaikannya. Dengan kebodohan yang kusadari mulai duduk dalam posisi meditasi seperti yang ditampilkan di siaran YouTube; duduk bersila, memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangan di depan dada. Tarik napas … keluarkan…, begitu kata pemandunya, yang kukira sudah sampai pada level dhyana. Satu menit dua menit aku malah ingin mencium bibir tebal, merah, dan indah milik Jade. Bukan mengantarkanku kepada kedamaian, justru meditasi itu memanduku menjadi liar. Sekarang aku merindukan mantan kekasihku, mungkin bisa kusebut cinta sejatiku jika saja hubungan harum dan manis itu tak kandas.
Tiga jam kemudian, aku sudah memegang sapu. Baru selesai menyapu dan duduk di atas tong sampah besar. Seorang teman Indonesia-ku, tersenyum jahil melihatku, “Kerja!” katanya kemudian elemparku dengan tisu bekas pelanggan. Tisu itu, dengan segala keringanannya, mendarat pada celemekku, dan aku tanpa merasa berat hati, bangkit, memijak bukaan tong sampah dan membuangnya. Pring cuciannya bayak dan sangat-sangat lengket dengan saos oranye kecokelatan, sehingga dia menggosoknya dengan kuat. “Bisa-bisa terbelah nih piring!” candanya pada diri sendiri.
Kutepuk pundaknya, “Santai, Jer! Lagian ngapain, sih? Gaji kamu enggak naik juga kalau piring-piring itu berkilau!”
“Iya! Tapi kena semprot kalau ternyata masih kotor!”
Aku menyetujuinya dengan tertawa. Dia ikut-ikutan tertawa meski sudah tak lagi berniat membuat piring cuciannya sebelas-dua belas dengan keramik porselen.
Jeri, si anak orang kaya. Ayahnya dua kali menjabat sebagai pimpinan organisasi kemasyarakatan, sementara ibunya adalah kepala sekolah SMA swasta di salah satu kota makmur di Pulau Jawa. Tak cukup sampai di situ, mereka punya dua bisnis kuliner yang tak pernah sepi pengunjung. Namun, entah itu tren atau memang anak orang kaya dilahirkan seolah alergi benda-benda berkilauan dan tidak cocok dengan aroma uang, mereka cenderung rebel. Sikap penolakan itu mungkin satu “pameran” kepada Tuhan karena tidak menuruti keinginan mereka untuk lahir di keluarga kekurangan. Terlebih lagi, Jeri adalah anak bungsu laki-laki dengan dua kakak perempuan yang menjadikannya super kolokan dan membentuk jiwa seorang nonkonformis dalam keluarganya. Jeri meninggalkan kamar nyaman di rumahnya demi kamar bau apak di negara tetangga. Melambaikan tangan pada perkuliahan dua tahun di Universitas Indonesia dengan jurusan Bisnis hanya untuk mengulang dari awal studi Teknik Mesin dan Manufaktur di Singapore Polytechnic sambil bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran yang menjual menu serupa dengan restoran keluarganya, dengan gaji yang tak sampai 1.500 SGD sebulan. Bagiku, ini benar-benar kegenitan yang dibuat-buat. Kemanja-manjaan total. Penyakit yang dicari-cari. Sebuah keputusan norak yang diambil oleh laki-laki berusia dua puluh dua tahun, lebih terlihat norak lagi karena ia sadar akan keputusan noraknya. Tapi dia temanku, orang Indonesia pertama yang kutemui sejak menginjakkan kaki di Singapura, dan juga orang yang mencarikan tempat tinggal yang kutempati hampir dua tahun terakhir. Dia juga yang menarikku bekerja paruh waktu di restoran ini, sejenis food court yang diminati turis-turis dengan anggaran mepet.
Selama dua tahun ini juga, Jeri seperti tahu diri padaku dan dia paham benar posisiku. Dia tidak pernah melebih-lebihkan jasanya dalam membantu, tidak pernah berusaha menarik perhatianku (atau mungkin aku memang tidak menarik perhatiannya). Dia lebih seperti seorang adik yang membantu kakaknya dengan cara yang biasa: tanpa basa-basi dan sedikit tidak peduli. Kurasa, dia menawarkanku pekerjaan bukan karena semata-mata tahu aku membutuhkan uang—meskipun jelas aku butuh, seperti halnya siapa pun yang baru datang sebagai imigran tanpa kualifikasi ekspatriat—tetapi lebih karena dia juga butuh teman. Teman Indonesia, tepatnya. Seseorang yang mengerti lelucon-leluconnya, seseorang yang bisa menafsirkan bahasa tubuhnya, mengartikan tatapan matanya, hingga helaan napasnya. Sejak meninggalkan rumahku aku menyadari bahwa desahan napas dan tatapan mata orang dari negara berbeda memiliki makna berbeda pula. Termasuk Jade, mantan kekasihku. Dia lahir dan tumbuh di sebuah kota pelabuhan di pantai timur Australia, sekitar 160 kilometer di utara Sydney. Kota Newcastle. Helaan napasnya kadang kutafsirkan sebagai keluhan, tetapi saat kutanya, dia hanya bilang dia bernapas seperti biasa, hanya sedikit lebih berat. Malah dia balik bertanya, kenapa aku begitu naif. Aduh!