Pukul sepuluh malam, lampu temaram di apartemen kecil Seline menciptakan siluet di atas meja kerja. Jari-jarinya menari di atas kibor, bukan sekadar mengetik, tapi seolah menyusun not-not balada yang sudah dihafalnya bertahun-tahun. Artikel review film indie Korea berjudul “Hidup Tanpa Puncak” hampir rampung. Seline tak hanya mengulas alur, ia menyelipkan metafora tentang senja yang tak pernah bertemu fajar, tentang napas yang berembus tanpa pernah benar-benar mendesah lega. Ia merangkai kata-kata seolah sedang berbisik pada dirinya sendiri, pada kekosongan yang dirasakannya.
Sejak lulus kuliah, Seline Anggara menemukan rumahnya di majalah daring, di kolom ulasan film. Tulisannya tajam, personal, dan penuh ironi. Ia bisa membedah satu adegan hanya dari gerakan mata seorang aktor, atau menemukan filosofi di balik sekuens yang tampak biasa saja. Gaji tak seberapa, namun gairah itu cukup untuk membuatnya bertahan. Menulis tentang film adalah cara Seline mempertahankan sepotong dirinya yang menolak untuk mati, sebuah kepingan jiwa yang enggan menjadi praktis.
Hidup Seline adalah sebuah lingkaran yang sempurna dan membosankan. Bangun jam tujuh, sarapan roti tawar, menulis, menonton film, sesekali liputan, lalu kembali menulis sampai larut. Roda hidupnya berputar dengan kecepatan yang sama, tanpa guncangan, tanpa kejutan. Ada kenyamanan dalam keteraturan itu, seperti memakai kaus usang yang robek di bagian bahu, tapi terasa pas. Nyaman, tapi tak lagi memicu gairah. Monoton, seperti musik latar yang terlalu sering diputar.
Dalam lingkaran itu, ada Steven, pacarnya sejak hampir empat tahun lalu. Seorang pria yang kokoh, stabil, dan tanpa misteri. Ia bekerja di sebuah perusahaan distribusi elektronik, bicaranya selalu tentang angka, target, dan cicilan mobil. Steven adalah pria baik-baik, yang tidak pernah membuat Seline khawatir. Teman-teman Seline sering bilang, “Dia itu definisi pria idaman, Sel. Setia, mapan, dan nggak neko-neko.” Seline mengiyakan. Semua yang mereka katakan memang benar. Hanya saja, kebenaran itu tak bisa mengisi celah tak terlihat yang semakin lebar di antara mereka, seperti dua garis sejajar yang tak akan pernah bertemu.
Seline menyimpan draf artikelnya, menutup laptop, dan mematikan lampu meja. Dalam kegelapan, cahaya layar ponselnya menyala, sebuah pesan dari Steven.
Steven: Lagi ngerjain tulisan ya? Jangan tidur terlalu malam. Besok aku jemput habis kerja, makan malam di tempat biasa.
Seline menghela napas panjang, bukan karena lelah, tapi karena ia tahu pasti apa yang dimaksud “tempat biasa” itu. Warung pasta yang sama, dengan menu yang sama, dan percakapan yang sama. Mereka sudah seperti dua orang yang terbiasa makan di tempat itu, bukan karena cinta, tapi karena kebiasaan. Jemarinya yang lelah mengetik balasan singkat.
Seline: Oke, sampai besok.
Ia meletakkan ponselnya, rasa hangat dan jenuh bercampur aduk menjadi satu. Hangat karena Steven selalu peduli, jenuh karena kepedulian itu terasa seperti pengulangan yang tak berujung. Seline menatap siluet poster film Eternal Sunshine of the Spotless Mind di dindingnya. Film itu tentang menghapus kenangan, tapi yang Seline rasakan justru sebaliknya. Ia takut tak ada lagi kenangan baru yang layak disimpan. Hidupnya terasa seperti film yang sudah ditontonnya ribuan kali, sebuah skenario yang aman, tanpa kejutan, dan tanpa akhir yang menggemparkan.