Gedung festival menyambut Seline dengan sebuah ledakan sensorik. Cahaya lampu sorot membias di lantai marmer, menciptakan titik-titik terang yang menari. Udara terasa berat dengan campuran aroma kopi pekat, parfum mahal, dan wangi khas karpet baru. Suara bisik-bisik, tawa kecil, dan deru percakapan mengalun seperti melodi riuh.
Seline melangkah masuk. Jantungnya berdebar, bukan karena gugup, melainkan karena getaran dari energi di sekelilingnya. Ia mengenakan gaun biru tua sederhana, bukan untuk menarik perhatian, tetapi untuk bersembunyi. Tangannya menggenggam erat buku catatan kecil, sebuah ritual lama yang memberinya rasa aman. Sebuah laptop mungkin lebih praktis, tapi sentuhan kertas dan pena seolah menahannya agar tetap berpijak.
Ia berdiri di sudut, mengamati pemandangan. Di matanya, para sineas muda dan jurnalis yang bergerak di ruangan itu tampak seperti kepingan-kepingan dalam sebuah mesin yang hidup. Ia merasa terasing sekaligus terpesona, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan, sebuah kerinduan untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar meja kerja, layar laptop, dan janji-janji kosong Steven.
Ia menyesap minumannya, dingin dan hambar, berusaha menenangkan pikiran yang terus bergerak.
Seketika suasana hening saat pembawa acara naik ke panggung. Sebuah nama disebut dengan lantang, Anton Surya. Seline menoleh, matanya mengikuti sosok itu naik. Anton mengenakan kemeja hitam yang pas di badannya. Ia tidak berusaha tampil mencolok, tetapi ada sesuatu pada cara ia melangkah, santai namun penuh keyakinan. Ia bukan pria yang tampan secara klise, tetapi sorot mata dan rahangnya yang tegas memancarkan kekuatan yang lebih menarik daripada sekadar paras.
“Film ‘Langkah di Senja’ berhasil memikat juri lewat kesederhanaan narasi, visual yang puitis, dan kedalaman emosinya,” suara pembawa acara mengalun.
Seline melihat Anton menerima plakat kecil itu dengan sebuah anggukan hormat. Ketika ia mulai berbicara, suaranya terdengar berat dan tenang. Ia mengucapkan terima kasih kepada timnya, kepada “anak saya yang menjadi inspirasi,” dan berharap agar film pendek bisa terus bersemi.
Setiap kata terasa terukur, tanpa omong kosong. Seline merasakan sensasi aneh, seperti ada aliran listrik yang mengalir. Suara Anton bukan sekadar suara, tetapi sebuah pernyataan, bahwa ia tahu persis apa yang ia lakukan. Kalimat itu menembus dinding pertahanan Seline yang selama ini ia bangun.
Setelah acara usai, Seline berkeliling, mencoba fokus mencatat hal-hal penting. Namun, nama Anton terus terngiang. Ada dorongan kuat yang tidak bisa ia abaikan. Ia melihat Anton berdiri di dekat sebuah booth, dikelilingi oleh para kru yang tampak muda dan bersemangat.
Pikirannya berbisik, "Apa yang harus aku lakukan? Apa aku benar-benar harus menemuinya?"
Namun, tubuhnya sudah bergerak. Kaki-kakinya seakan punya keinginan sendiri, berjalan membelah kerumunan. Ia mendekat, dadanya berdebar, bukan lagi karena keramaian, tetapi karena antisipasi.