Awalnya, segala sesuatu berjalan di atas rel yang seharusnya. Profesional, kaku, dan terjaga. Seline menghabiskan waktu hampir tiga puluh menit hanya untuk menyusun satu pesan singkat. Ia menghapus kata "Mas", menggantinya dengan "Pak", lalu menghapusnya lagi karena terasa terlalu formal untuk suasana festival kemarin. Ia mengatur napas, menatap layar ponsel yang memantulkan bayangan wajahnya yang tampak lelah namun waspada.
"Mas Anton, ini Seline dari Festival Film Pendek kemarin. Terima kasih sudah meluangkan waktu. Saya ingin mengatur wawancara singkat untuk kebutuhan liputan, kalau berkenan".
Setelah menekan tombol kirim, Seline segera membalikkan ponselnya di atas meja kayu. Ia merasa seperti baru saja melempar batu ke dalam sumur yang sangat dalam dan sedang menunggu bunyi kecipak air yang mungkin takkan pernah terdengar. Ia mencoba kembali ke layar laptop, memaksa jemarinya mengetik ulasan tentang film dokumenter lain yang ia tonton kemarin, namun fokusnya pecah.
Tepat sepuluh menit kemudian, getaran pendek di atas meja membuat jantungnya melonjak.
"Tentu, Seline. Senang sekali bisa lanjut diskusi. Kamu mau wawancara tertulis atau ngobrol langsung?"
Seline menatap balasan itu. Jawabannya datang terlalu cepat untuk seseorang dengan reputasi sesibuk Anton Surya. Ada gelombang kecil kepuasan yang merambat di dadanya, sebuah pengakuan yang sulit ia jelaskan. Maka, dimulailah sebuah pertukaran kata yang awalnya hanya berupa tanya-jawab teknis. Seline mengirimkan daftar pertanyaan lewat surel, dan Anton membalasnya satu per satu.
Namun, di sinilah letak perbedaannya. Jawaban Anton tidak pernah pendek atau sekadar memenuhi syarat. Pria itu menulis seolah-olah ia sedang menuangkan isi kepalanya ke atas kertas putih yang suci. Ia tidak bicara tentang teknis kamera atau anggaran produksi yang membengkak. Ia bicara tentang "jiwa" dari sebuah adegan.
"Seline, bagiku, proses kreatif itu seperti mencoba menangkap asap dengan tangan kosong. Kita tahu asap itu ada, kita merasakannya, tapi begitu kita mencoba menggenggamnya, ia hilang. Sutradara hanya mencoba memastikan bahwa setidaknya aroma asap itu tertinggal di dalam botol yang bernama film".
Seline membaca baris itu berulang kali di tengah kesunyian kamarnya. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas, bukan lagi sebagai wartawan, tapi sebagai manusia yang merasa "ditemukan" dalam kata-kata itu.
Malam-malam berikutnya berubah menjadi rutinitas yang membahayakan. Percakapan mereka mulai melar ke mana-mana, melewati batas jam kerja yang wajar. Dari ulasan film, mereka bergeser ke arah buku. Seline terkejut mendapati bahwa mereka memiliki selera yang hampir identik terhadap penulis-penulis Rusia yang suram dan filsafat eksistensialisme yang berat.
"Kamu sering membaca buku filsafat?". Tanya Anton pada suatu malam yang gerimis.
"Sedikit. Lebih sering pura-pura paham agar terlihat pintar di depan narasumber". Balas Seline, menyelipkan candaan untuk menutupi rasa gugupnya.