Yang Kita Rahasiakan

Dimas Hendra
Chapter #4

Rasa Bersalah

Ruang pemutaran itu tidak lebih besar dari kamar tidur utama di sebuah apartemen mewah, namun terasa jauh lebih menyesakkan. Tidak ada lampu gantung yang megah, hanya lampu-lampu kecil di sepanjang lantai yang memancarkan cahaya remang kebiruan. Kursi-kursinya berlapis kain beludru hitam yang tebal, disusun begitu rapat sehingga udara di antara deretan kursi itu seolah terjebak, tidak berputar. Sejak awal, ruangan ini sepertinya memang dirancang untuk sebuah keintiman yang dipaksakan, tempat di mana mata hanya punya satu tujuan: layar di depan, dan tubuh hanya punya satu sandaran: orang di sebelah.

Seline tiba lima menit lebih awal. Ia sengaja memilih duduk di baris tengah, posisi paling netral yang bisa ia pikirkan. Ia mengenakan kemeja katun putih yang sedikit longgar dan celana bahan berwarna gelap. Ia ingin terlihat seperti seorang profesional, seorang kritikus film yang sedang menjalankan tugasnya dengan serius. Di dalam tasnya, buku catatan kecil itu terselip, seolah menjadi jimat pelindung dari emosi yang tidak terduga.

Lalu, pintu terbuka.

Anton masuk dengan langkah yang nyaris tak terdengar di atas karpet tebal. Ia tidak mengenakan jas atau pakaian formal lainnya. Hanya kaus abu-abu tua yang dipadukan dengan jaket denim yang sudah agak pudar warnanya. Penampilannya santai, namun kehadirannya langsung mengisi setiap sudut kosong di ruangan itu. Tanpa bertanya, tanpa ragu, ia langsung duduk di kursi kosong tepat di sebelah Seline.

Jarak di antara mereka kini hanya sebatas sandaran tangan kursi yang sempit.

"Terima kasih sudah datang," bisik Anton.

Suaranya rendah, bergetar lembut di telinga Seline, jauh lebih intim daripada suara yang ia dengar di festival tempo hari. Seline merasa bahunya menegang secara otomatis. Ada aroma kayu cendana dan samar-samar wangi tembakau yang menguar dari tubuh Anton, aroma yang terasa sangat maskulin dan matang. Seline hanya mampu mengangguk kecil, memberikan senyum tipis yang ia harap terlihat sopan, bukan gugup.

Lampu perlahan padam. Kegelapan total menyergap selama beberapa detik sebelum layar menyala, memproyeksikan cahaya perak ke wajah mereka.

Film dimulai.

Namun, bagi Seline, film itu hanyalah latar belakang suara yang bising. Perhatian utamanya justru tersedot pada sosok di sampingnya. Dalam kegelapan, indra perasanya menjadi sepuluh kali lebih tajam. Ia bisa merasakan kehangatan yang memancar dari lengan Anton yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari lengannya. Ia bisa mendengar pola napas Anton yang teratur, yang terkadang berubah sedikit lebih dalam saat adegan tertentu muncul di layar.

Sesekali, Anton membungkuk sedikit ke arahnya. Hembusan napasnya menyentuh anak rambut di pelipis Seline, mengirimkan sensasi dingin yang aneh ke punggungnya.

"Adegan ini improvisasi," bisik Anton pelan, hampir seperti rahasia yang hanya boleh diketahui oleh mereka berdua. "Aktornya tidak tahu kalau kamera masih merekam."

Seline menoleh sedikit, mendapati wajah Anton yang diterangi cahaya layar. Mata pria itu berkilat, penuh dengan gairah akan karyanya. Seline menjawab dengan bisikan yang sama pelannya. "Itu sebabnya reaksinya terasa sangat nyata. Ada ketakutan yang tidak dibuat-buat di sana."

Anton menatapnya sejenak, lebih lama dari yang seharusnya untuk sebuah diskusi profesional, sebelum kembali menatap layar. Mereka kemudian tertawa pelan pada adegan-adegan satir yang mungkin bagi penonton umum tidak lucu, namun bagi mereka yang mengerti seluk-beluk narasi, itu adalah sebuah kecerdasan visual. Tawa mereka menyatu dalam ruang sunyi itu, menciptakan sebuah gelembung transparan yang memisahkan mereka dari dunia luar.

Tidak ada sentuhan fisik yang disengaja. Tidak ada jemari yang bertautan. Namun, Seline merasa seolah-olah seluruh tubuhnya sedang berkomunikasi dengan Anton. Ada sebuah ketegangan elektromagnetik yang membuat bulu kuduknya berdiri. Seline menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak ingin film ini cepat berakhir. Ia menikmati kegelapan ini. Ia menikmati perasaan "dekat" yang tidak berizin ini.

Lihat selengkapnya