Yang Kita Rahasiakan

Dimas Hendra
Chapter #5

Undangan di Malam Hari

Layar ponsel itu menyala tepat pukul sembilan lewat dua belas menit, membelah kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu meja temaram. Seline sedang mencoba membaca sebuah novel, namun pikirannya terus terpental ke arah lain sejak kejadian di ruang pemutaran film tempo hari. Ketika notifikasi itu muncul, jantungnya memberikan satu dentuman keras, seolah ia sudah tahu siapa pengirimnya bahkan sebelum jemarinya menyentuh layar.

"Sel, kalau kamu tidak sibuk, aku mau ngopi sebentar malam ini. Ada film baru yang ingin kuceritakan. Santai saja."

Kalimat itu sederhana, bahkan terkesan sangat kasual. Namun, bagi Seline, setiap kata di sana terasa seperti sebuah kode rahasia. Ia membacanya berulang kali, mencoba mencari nada yang tersembunyi di balik spasi dan tanda titik. "Ngopi sebentar." "Santai saja." Anton tahu persis bagaimana cara memberikan undangan yang tidak terlihat mengancam, padahal Seline merasa setiap sendi tubuhnya sudah siaga satu.

Di ruang tamu, suara Steven terdengar samar. Pria itu sedang melakukan panggilan video dengan rekan kerjanya, membahas laporan keuangan kuartal terakhir dengan nada suara yang stabil dan membosankan. Steven adalah dermaga yang tenang, tempat Seline selalu pulang. Namun malam ini, ketenangan itu justru terasa mencekik, seperti air yang terlalu tenang hingga mulai berlumut.

Seline melirik ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka. Ia merasa seperti pengkhianat hanya karena menatap pesan dari pria lain. Bayangan wajah Steven yang tersenyum saat mereka membicarakan rencana makan malam akhir pekan sempat melintas, namun dengan cepat terhapus oleh ingatan akan tatapan Anton yang dalam dan berwibawa.

"Boleh. Di mana?"

Balasan itu terkirim begitu saja. Seline tidak lagi menimbang-nimbang. Ia merasa seolah-olah dirinya sedang ditarik oleh arus bawah laut yang kuat; ia bisa saja mencoba berenang melawan arah, namun sebagian dari dirinya ingin melihat sejauh mana ombak ini akan membawanya.

Kafe yang dipilih Anton terletak di sebuah gang kecil yang hampir tersembunyi di sudut Jakarta Selatan. Tidak ada papan nama neon yang mencolok, hanya sebuah lampu bohlam kuning tua yang tergantung di atas pintu kayu. Di dalamnya, suasana terasa sangat pribadi. Musik jazz mengalun rendah, bercampur dengan aroma biji kopi yang baru digiling dan kayu lembap.

Anton sudah duduk di sana, di sebuah meja kecil di dekat jendela yang menghadap ke arah jalanan gelap. Ia mengenakan jaket berwarna gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Begitu Seline masuk, Anton berdiri sedikit dan memberikan senyum tipis, senyum yang entah kenapa membuat Seline merasa seolah pria itu sudah menunggunya seumur hidup.

"Terima kasih sudah datang. Kamu kelihatan capek," kata Anton setelah Seline duduk di hadapannya. Ia tidak bertanya "apa kabar," karena sepertinya ia bisa melihat langsung ke dalam keletihan yang disembunyikan Seline.

"Sedikit," jawab Seline sambil meletakkan tasnya. "Akhir-akhir ini banyak pikiran. Menulis ulasan, mengejar tenggat waktu."

Lihat selengkapnya