Yang Kita Rahasiakan

Dimas Hendra
Chapter #6

Dua Dunia

Perjalanan itu seharusnya menjadi penawar. Sebuah pelarian yang dirancang dengan presisi oleh Steven untuk menyembuhkan apa yang ia anggap sebagai "kelelahan kerja" Seline. Mobil melaju membelah aspal jalan tol yang panjang, meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta yang berdebu di belakang mereka. Di dalam kabin mobil yang kedap, aroma parfum mobil yang segar bercampur dengan bau kulit jok yang mewah, menciptakan suasana yang seharusnya sangat nyaman.

Steven menyetir dengan gaya yang sangat ia kenal: santai, satu tangan di kemudi, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk setir mengikuti irama lagu jazz lama yang mengalun dari radio. Sesekali ia menoleh ke arah Seline, memberikan senyum yang hangat, jenis senyum yang biasanya membuat Seline merasa bahwa segala sesuatunya akan baik-baik saja.

"Kita benar-benar butuh ini, Sel," kata Steven saat mereka melewati perbatasan kota. Suaranya mantap, penuh dengan keyakinan seorang pria yang merasa telah memberikan solusi terbaik bagi pasangannya. "Biar kamu tidak terus-menerus terjebak dalam pikiranmu sendiri. Kadang kamu terlalu serius memikirkan ulasan film atau tenggat waktu. Kamu butuh udara segar."

Seline membalas dengan anggukan dan senyum tipis. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Steven benar. Ia memang butuh ini. Ia butuh pelukan Steven, butuh tawa pria itu, dan butuh stabilitas yang ditawarkan hubungan mereka yang sudah berjalan bertahun-tahun. Namun, sejak mobil itu bergerak, ada sesuatu yang asing duduk di kursi belakang, sebuah kehadiran tak kasat mata yang membuat napas Seline terasa sedikit berat.

Steven terus bercerita. Ia bicara tentang rencana menabung untuk uang muka rumah yang lebih besar tahun depan. Ia bicara tentang kariernya yang sedang menanjak dan bagaimana ia membayangkan akhir pekan mereka di masa depan: sarapan bersama, berolahraga, lalu menonton film di ruang tengah yang luas.

"Kalau semuanya lancar," kata Steven sambil melirik spion, "kita bisa punya rutinitas yang sangat enak. Tidak perlu ribet. Kita bisa hidup tenang, tanpa perlu banyak drama."

Kata tidak perlu ribet itu bergema di kepala Seline. Bagi Steven, itu adalah definisi kebahagiaan. Sebuah hidup yang terukur, dapat diprediksi, dan aman dari guncangan. Namun bagi Seline, kata-kata itu terdengar seperti sebuah lonceng yang menandai berakhirnya masa penjelajahan jiwanya. Ia menatap keluar jendela, pada deretan pohon yang berlari mundur dan langit biru yang terlalu bersih. Dalam benaknya, bayangan lain muncul tanpa permisi: wajah Anton yang matang, tatapannya yang seolah bisa menembus kulit, dan kalimat-kalimatnya yang selalu membuat Seline merasa sedang berdiri di tengah badai yang indah.

"Sel? Kamu dengar, kan?" panggil Steven, menyadari keterdiaman pasangannya yang terlalu lama.

"Iya, aku dengar," jawab Seline cepat. Terlalu cepat, seolah ia tertangkap basah sedang memikirkan hal yang dilarang. "Aku hanya sedang menikmati pemandangannya."

Steven tersenyum puas, lalu meraih tangan Seline dan menggenggamnya erat. Genggaman itu hangat, nyata, dan penuh perlindungan. Namun, Seline justru merasa seperti seorang tahanan yang sedang digiring menuju sel yang sangat nyaman.

Penginapan yang mereka tuju adalah sebuah villa kecil yang tenang di perbukitan. Udaranya sejuk, beraroma tanah basah dan pinus. Steven tampak sangat puas dengan pilihannya. Ia membawakan tas Seline, membuka pintu kamar dengan antusias, dan langsung menuju balkon untuk menghirup udara sore.

Lihat selengkapnya