Yang Kita Rahasiakan

Dimas Hendra
Chapter #7

Rahasia Dibalik Percakapan

Segalanya terjadi tanpa dentum pengumuman atau pernyataan yang dramatis. Tidak ada satu malam pun di mana mereka memutuskan untuk berhenti menjadi asing. Semuanya merayap masuk ke dalam hidup Seline melalui celah-celah kecil yang tak kasat mata, melalui layar kaca berukuran enam inci yang kini menjadi benda paling berharga sekaligus paling berbahaya dalam genggamannya.

Tidak ada keputusan besar. Tidak ada kalimat, "mulai sekarang kita begini." Yang ada hanyalah sebuah kebiasaan baru yang pelan-pelan namun pasti mulai mengakar kuat di dalam sarafnya: sebuah ritual yang dimulai dengan membuka ponsel sebelum kelopak mata sepenuhnya terbuka di pagi hari, mengecek satu nama tertentu di sela-sela kesibukan kantor, dan tersenyum pada layar di tengah kegelapan kamar seolah benda itu adalah satu-satunya jendela menuju dunia lain yang lebih berwarna.

Seline dan Anton semakin sering berbincang. Frekuensinya meningkat, seiring dengan pertahanan diri mereka yang meluruh.

Awalnya, mereka masih berpura-pura rapi. Mereka membangun benteng di balik istilah profesional: menyebutkan artikel film terbaru, membagikan jadwal festival yang tidak benar-benar ingin mereka datangi, atau mendiskusikan ulasan yang sebenarnya sudah selesai. Tapi seperti sungai yang akhirnya menemukan celah di antara bebatuan keras, percakapan mereka selalu menemukan jalan untuk mengalir ke tempat yang lebih dalam, lebih gelap, dan lebih jujur.

"Kamu pernah ngerasa hidupmu sebenarnya sedang menunggu sesuatu, tapi kamu tidak tahu apa?". Tanya Anton pada suatu sore yang mendung

"Sering", jawab Seline, jemarinya lincah menari di atas keyboard layar. "Dan itu menakutkan karena aku merasa hidupku seperti sebuah prolog yang terlalu panjang tanpa pernah masuk ke bab utama".

Anton membalas dengan kecepatan yang membuat jantung Seline berdegup tidak beraturan.

"Atau justru menenangkan, Sel. Karena itu berarti ceritamu belum selesai. Masih ada ruang untuk kejutan yang tidak terduga".

Kalimat-kalimat Anton sering kali seperti itu. Tidak menggoda secara terang-terangan dengan kata-kata manis yang murahan. Namun, setiap baris pesannya selalu meninggalkan bekas, seperti goresan halus pada kaca yang mustahil untuk dihilangkan. Anton tahu persis di mana harus mengetuk agar pintu batin Seline bergetar, meski ia belum sepenuhnya membukanya.

Mereka mulai membicarakan hal-hal yang tidak pernah Seline bagi dengan siapa pun, bahkan tidak dengan Steven yang sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Seline menceritakan tentang ketakutannya menjadi "biasa-biasa saja", seorang penulis yang hanya mengisi kolom tanpa pernah meninggalkan jejak. Tentang mimpinya menulis sebuah buku yang jujur, sebuah karya yang mungkin tidak laku di pasaran namun mampu membuat pembacanya merasa telanjang secara emosional.

Ia juga bercerita tentang rasa bersalah yang kini menjadi teman setianya. Rasa sesak yang ia rasakan setiap kali ia tertawa bersama Steven di depan televisi, sementara di bawah meja, ibu jarinya sibuk membalas pesan dari Anton.

Anton pun mulai membuka lapisan dirinya, sedikit demi sedikit. Ia bicara tentang tekanan menjadi "kepala keluarga" yang diharapkan selalu kuat, selalu menjadi pilar yang tak tergoyahkan bagi istri dan anaknya. Tentang bagaimana ia sering merasa hidupnya sudah dibagi-bagi menjadi potongan-potongan kecil untuk orang lain, namun tidak pernah ada potongan yang sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Tentang mimpi-mimpi masa kecilnya yang kini terasa terlalu naif untuk diucapkan dengan suara keras di tengah tuntutan industri film yang kejam.

Obrolan mereka sering berakhir jauh lewat tengah malam.

Lihat selengkapnya