Pssssst.
Mesin pengharum ruangan otomatis di sudut dinding baru saja menyemprotkan aroma teh keraton yang lembut nan mewah. Manakala sore mengetuk angka tiga lewat sedikit, seketika Raka merasa waktu bergulir seperti siput.
Dari balik jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit kantornya di lantai 24, Jakarta ikut melambat. Kaca tebal berfilter keabu-abuan itu mengunci rapat hiruk-pikuk jalanan Sudirman yang mulai padat oleh kendaraan yang mengular. Macet. Sementara di dalam ruangan, embusan dinginnya AC berpadu dengan keheningan yang kaku.
Di hadapan layar laptop yang mulai buram oleh kantuk, Raka meluruskan punggung, lalu meregang kedua tangan ke atas. Sudah nyaris setengah jam ia sendirian di ruangan ini.
Tak lama kemudian, suara pintu kaca berderit halus. Keharuman teh yang tadi terhidu mendadak kalah oleh sengatan aroma tembakau. Raka tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja kembali dari pelariannya. Penghuni meja yang ada di depannya itu memang selalu kabur jika ada kesempatan—terutama saat atasan mereka tidak ada di tempat.
“Ngopi,” katanya. Sebuah cup es kopi yang sudah mencair mendarat di meja Raka.
“Buat gue?” Raka mengerjap, menatap logo kafe kekinian di cup itu.
Ari mengangguk. “Sekalian tadi gue beli di bawah.” Ia menyeret kursi beroda di mejanya hingga berdecit, mengempaskan tubuhnya yang ringkih. Diseruputnya sisa es kopi miliknya dengan suara sedotan yang nyaring. “Baru diseruput bentar, udah habis lagi aja ini kopi.”
“Ya udah, minum lagi aja ini,” Raka mengangkat cup itu, memaksakan senyum ramah yang membuat pipinya pegal. Ia tidak tersinggung, atau lebih tepatnya, ia memilih menekan rasa tidak nyamannya dalam-dalam demi menjaga suasana agar tetap aman.
“Gue udah beliin itu buat elo, Rak. Diminum lah.”
Tawa kecil yang canggung keluar otomatis dari tenggorokan. “Serius, nih?”
“Iyeee, bawel.”
“Oke, thanks, Ri.”
Raka menatap cairan hitam yang beradu dengan lapisan air bening di permukaan. Esnya sudah hampir sepenuhnya mencair. Di hari-hari lain, biasanya Raka juga membelikan kopi untuk mereka berdua, tetapi ia tidak akan pernah membiarkan es kopi itu telanjur mencair sebelum sampai ke tangan penerimanya.
Begitu akhirnya menyesap kopi itu… ugh. Lidahnya nyaris menjulur keluar. Rasa khas kopinya sudah lenyap sepenuhnya, menyisakan air dingin yang hambar. Tak ingin ekspresi kecewanya tertangkap basah, Raka segera beralih pada layar laptopnya.
Daftar periksa onboarding karyawan baru masih mentah. Beberapa kolom masih kosong melompong—mulai dari nomor rekening yang belum selesai di-input, berkas pakta integritas yang menumpuk untuk dicek ulang, hingga status pendaftaran asuransi kesehatan yang belum selesai diperbarui. Raka sengaja menekan papan tik lebih keras, berharap ketukan tombol yang bising bisa mengenyahkan rasa suntuknya.
Sialnya, notifikasi muncul dari pojok bawah layar. Konsentrasinya kembali buyar. Raka kerap kesulitan mengabaikan pesan walau hanya sebentar, rasanya seperti ada urgensi yang menekan dadanya.
Mas, Ibu kayaknya bakal ngambek kalo Mas gak pulang minggu ini.
Rahang Raka mengeras saat melihat kontak Dika kembali mengetik pesan. Sudah berulang kali Raka memberitahukan ibu dan adiknya bahwa menjelang akhir bulan bukanlah waktu terbaik untuk pulang—apalagi sampai menginap segala. Memang benar hari libur, tapi Sabtu Minggu setelah pertengahan bulan terasa begitu berharga, begitu eksklusif, hanya untuk sekadar beristirahat. Malahan, terkadang ia harus membawa pulang pekerjaannya.
Pokoknya harus pulang. Kasihan Ibu, kangen katanya.
Raka menggusah napas berat, lalu mengetik tanpa berpikir: Iya—
Jarinya berhenti. Ia menatap kalimat itu beberapa detik, sebelum akhirnya menghapusnya, lalu mengetik ulang.
Lagi banyak kerjaan. Nanti Mas kabarin.