Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #2

Bidak yang Tergesa

Kontrakan yang dihuni Raka berada di dalam sebuah gang buntu. Bangunan satu lantai itu berjejer dengan lima bangunan serupa, semuanya dicat hijau stabilo yang sudah kusam termakan waktu. Pagarnya pendek berwarna hitam, dengan sebagian besar besi yang sudah digerogoti karat. Lokasinya juga terbilang strategis karena hanya memakan waktu sepuluh menit berkendara menuju Stasiun Pondok Ranji.

Sejak pertama kali memutuskan keluar dari rumah keluarganya di Bekasi, Raka sempat bimbang untuk menyewa kamar kos sempit di dekat kantornya, atau mengalah pada jarak demi kenyamanan.

Dengan harga yang jauh lebih murah, kontrakan di sini sudah memberinya kamar mandi dalam dan teras kecil untuk memarkir motor bebeknya—meski kenyataannya ia lebih sering parkir motornya di dalam agar tak mengundang maling.

Luas bangunannya sedikit lebih besar dari opsi lain di ibukota. Bagi Raka yang mendambakan ketenangan, posisi kontrakannya yang berada di pojok paling ujung adalah sebuah keberuntungan.

Begitu mengunci pagar teras dan pintu dalam, Raka melepas tasnya ke sisi kasur dengan kasar. Jalanan dari stasiun tadi memang lengang, tapi tidak dengan ponselnya. Selama perjalanan, benda pipih itu terus bergetar di saku jaket. Begitu dikeluarkan, nama yang sudah ia duga muncul di layar.

Dika

[Mas, kenapa gak jadi balik? Ibu bolak-balik nanyain aku. Belum aku jawab kalo Mas Raka gak bisa pulang.]

[Kalo gak bisa nginep gak apa-apa. Paling gak, pulang lah sebentar. Tensinya sempet naik.]

[Missed call (3)]

Raka tertegun di tepi kasur. Rentetan pesan itu memicu rasa sangsi yang familier di dadanya. Terkadang, ia mempertanyakan apakah keputusannya untuk bekerja di Jakarta adalah pilihan yang tepat. Ia mengira dengan menyisihkan sebagian besar gajinya untuk memenuhi kebutuhan finansial di Bekasi sudah lebih dari cukup. Ternyata tidak. Menjadi anak sulung berarti harus siap memikul beban ganda, finansial sekaligus emosional.

Alih-alih membalas dan memicu perdebatan panjang yang menguras tenaga, Raka meletakkan kembali ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Ia harus fokus pada "alat tempur" utamanya malam ini. Laptop hitam itu diletakkannya di atas meja lipat, bersiap mendominasi akhir pekannya.

Sebelum bergerak mandi, Raka sempat menimbang apakah rekap absensi CS kiriman Ari sebaiknya dicicil malam ini atau besok pagi saja. Sifat tidak enakan yang akut membuat otaknya berbisik bahwa lebih cepat selesai akan lebih baik untuk Ari.

“Sebisanya dulu, sampai ngantuk,” gumamnya menghibur diri sendiri.

Jarum jam tangan analognya menunjuk ke angka sembilan lewat sedikit ketika ia melepasnya dari pergelangan tangan kiri. Usai membersihkan diri dan berganti pakaian santai, Raka langsung menenggelamkan diri ke dalam baris-baris data Excel yang rumit.

Dua jam berlalu tanpa terasa. Ketika kantuk mulai menyergap dan matanya terasa pedas oleh radiasi layar, Raka tergoda untuk menyeduh kopi. Namun, ia ingat tujuannya terjaga hanya untuk mencicil pekerjaan. Lantas ia beranjak keluar, duduk lesehan di lantai terasnya demi menghirup udara malam yang pekat di atas jam dua belas.

Langit malam kosong tak berujung. Di tengah keheningan yang hanya diisi oleh suara jangkrik, Raka mengatur napasnya yang berat.

“Belum tidur kau jam segini?”

Lihat selengkapnya