Akhir pekan Raka berlalu bagai angin lalu.
Sabtu? Seharian mendekam di kontrakan. Bergelut dengan tenggat waktu bukan lagi cerita baru yang membuatnya terus menggerutu. Baginya, ketenangan yang dihasilkan dari pekerjaan yang selesai berada pada level yang berbeda. Level di kala ia dapat melakukan apa pun tanpa ada perasaan mengganjal. Mengerjakan seharian dengan penuh fokus, pekerjaan yang dibawa pulang akhirnya selesai sebelum makan malam.
Minggu? Raka menuruti suara hatinya yang lebih keras dari logika. Ia tetap pulang ke Bekasi. Mungkin beda cerita kalau pekerjaannya belum selesai, ia tak akan merasa bersalah jika menjadikan sibuk sebagai alasan untuk tidak mengunjungi rumah.
Dan dalam sekejap, Senin pagi datang tanpa permisi. Hari di kala semua keletihan yang berusaha diabaikan kembali bersarang di pundak, tanpa perlawanan. Energi yang belum sepenuhnya terkumpul harus kembali bertempur di salah satu jalur terpadat KRL atau yang lebih akrab disebut Green Line—rute komuter yang mudah dibaca di peta, tapi penggunanya butuh mental ekstra.
Sudah rutinitas harian bagi Raka, bertransformasi jadi 'ikan pepes' di dalam gerbong menuju Tanah Abang. Ribuan pejuang rupiah saling berhimpit dan menyesak. Jangankan mencari posisi nyaman, berhasil meloloskan diri ke dalam saja sudah patut disyukuri. Seringnya, Raka tidak mendapat gantungan segitiga kuning atau pegangan apa pun selain iman. Mengandalkan kekuatan otot kaki untuk menjaga keseimbangan.
Namun, ajaibnya pagi ini ia masih bisa mengamankan satu posisi pegangan di atas kepala. Tepat di hadapannya, duduk seorang wanita paruh baya dengan batik ungu tua. Rambutnya sudah separuh memutih. Di pangkuannya ada kantong plastik tipis berisi sayur-mayur, dan sekotak mika makanan ringan.
Melihat kotak mika itu, ingatan Raka seketika terlempar pada kejadian kurang dari dua puluh empat jam yang lalu. Pada dapur rumahnya di Bekasi, dan bau tumisan bawang putih menyergap penciumannya.
“Nih, Ibu udah bikin ayam katsu. Buat kalau kamu lapar di kontrakan, langsung tinggal digoreng. Simpan di freezer,” kata ibunya sore itu, menyodorkan wadah serupa, padahal masih sibuk memasak. “Sayangnya Ayah belum pulang, ya. Jadi gak ketemu lagi dia sama kamu. Tutup bengkelnya malam.”
“Makasih, Bu.” Raka menerima bekal itu. “Gak apa-apa, Ayah sibuk. Salam aja, ya, Bu.”
“Makanya kalau bisa, kamu sering-sering pulang. Siapa lagi yang peduli sama urusan makan kamu kalau bukan Ibu?”
“Makanya cari istri, Mas,” celetuk Dika yang sedang selonjoran santai di ruang tamu.
“Hush.” Raka melotot ke arah adiknya yang malah cekikikan sendiri, lalu beralih pada sang ibu. “Tapi kata Dika, tensi Ibu kemarin naik? Udah gak apa-apa?”
“Itu mah, biasa. Ibu mana pun pasti suka kepikiran, kalau anak jauh dari ibunya.” Nita tersenyum lembut.
Ucapan yang mengalir ringan dari bibir ibunya bagai beban tak kasat mata di kepala Raka. Ia memikirkan ulang keputusannya untuk mengontrak di Pondok Ranji. Usahanya untuk mempersingkat rute Bekasi-jakarta saat baru diangkat jadi pegawai tetap, kini terasa seperti kepentingan ego semata. Dika dan ayahnya sudah terbiasa, tapi ibunya tetap gagal beradaptasi dengan jarak.
Jedarrr!
Kereta berguncang cukup keras disertai derit roda besi yang baru direm, sukses membuyarkan lamunan Raka. Di luar jendela gerbong, hamparan tanah kosong dan ilalang berganti dengan barisan bangunan beton. Suara operator stasiun menggema dalam pengeras suara, mengumumkan tibanya kereta di perhentian terakhir, Stasiun Tanah Abang.
Pintu bergeser terbuka, dan gelombang manusia kembali bergerak. Turun, naik, salip-menyalip tanpa memedulikan siapa yang berdiri di depannya. Raka mendekap ransel di dada sebelum akhirnya ikut terseret arus bersama ratusan orang lainnya. Langkah demi langkah memenuhi anak tangga dan lorong penghubung yang rasanya selalu terlalu sempit untuk menampung padatnya jam berangkat kerja.