Wajah-wajah semringah memenuhi lantai 24 salah satu gedung perkantoran di Sudirman pagi ini. Suasana selalu terasa sedikit lebih menyegarkan jika notifikasi transferan gaji dari bank sudah resmi mendarat di rekening masing-masing.
Dokumen rekapitulasi gaji yang sempat membuat Ari kelimpungan setengah mati sampai Senin kemarin, akhirnya beres. Lolos dari meja finance dan masuk ke sistem bank. Napas Raka pun ikut plong. Kebebasan setelah periode penguncian payroll berlalu jauh lebih melegakan bagi pundaknya ketimbang saat ia sendiri melihat angka di saldo rekening pribadinya bertambah.
Namun, kelegaan itu tak berlangsung lama. Mengingat instruksi ketat dari Danu dua hari lalu yang meminta karyawan kontrak harus sudah ada minggu ini, Raka terpaksa melakukan seleksi berkas secara maraton. Dari ratusan CV yang membanjiri portal sejak Senin siang, ia bergerak cepat menyaringnya hingga tersisa lima belas kandidat. Dan hari Rabu ini, rentetan jadwal interview bersama Ari sudah siap dimulai sejak pagi.
“Bulan baru, challenge baru,” keluh Ari.
Sebelah sudut bibir Raka terangkat otomatis. “Quotes of the day.”
“Hari ini berapa, Rak?” Ari menyalakan laptop malas-malasan.
“Delapan.”
“Besok?”
“Tujuh.”
Ari mengucek matanya asal, menerawang layar monitor. “Kenapa manusia harus kerja? Kenapa gak diem aja dapet duit?”
Raka terkekeh canggung, mencoba mencairkan suasana hati rekan kerjanya yang tampak kusut. “Kan, lo ada main crypto, Ri?”
“Yee, Panjul. Tetap aja gue butuh pemasukkan pasti.”
“Ya ... emang mau gak mau harus tetap kerja,” sahut Raka, menyisipkan tawa di akhir kalimatnya agar tidak terdengar seperti sedang menasihati.
Mendengar tanggapan Raka, Ari makin merengut dan bersungut-sungut. Ia sendiri tahu konsekuensinya jika mengeluh di depan Raka malah menambah kejenuhannya.
"Bacotlah," dumelnya sambil keluar ruangan.
***
Ruang meeting di ujung lorong hari itu berubah fungsi menjadi ruang interview sementara. Duduk berhadapan dengan belasan orang asing selalu jauh lebih menguras energi batin Raka ketimbang harus menatap barisan angka di layar monitor. Ari lebih tak tahan lagi, ia baru bergabung mendampingi Raka saat Danu tiba di kantor.
Saat akhirnya Ari bergabung, Raka lebih banyak mengambil peran untuk mencairkan suasana, melempar pertanyaan-pertanyaan pembuka yang ringan. Sementara Ari bertindak sebagai penguji teknis yang jauh lebih kaku dan tidak segan memperlihatkan kejengkelannya jika jawaban peserta mulai bertele-tele.
Pukul dua siang, sesi kedua setelah jam makan siang dimulai. Peserta datang-pergi silih berganti. Ada yang terlalu gugup hingga tangannya bergetar, ada yang terlalu percaya diri, ada juga yang baru duduk lima menit tetapi sudah membuat Ari memijat kening tanpa tedeng aling-aling.
“Dia tadi ngomong ‘passionate’ lima kali,” gerutu Ari begitu pintu meeting tertutup dan kandidat yang baru saja keluar.
Raka menghela napas pendek, meluruskan punggungnya yang kaku. “Lo sampai hitungin, Ri?”
“Otomatis otak gue yang ngitung.”
Raka mengangguk maklum. Ia membuka kembali lembar catatan penilaian miliknya. “Tapi kalau dari penilaian gue, kandidat yang anak event tadi sebenarnya lumayan oke secara komunikasi. Pengalamannya pegang acara juga masuk kualifikasi kita.”
“Belum masuk kriteria gue. Pinter ngomong doang."