Diam-diam, Tara merasa berdosa.
Setiap kali ingatan soal pria jangkung yang oleng di peron Stasiun Sudirman Jumat malam lalu terlintas, sudut bibirnya selalu ingin terangkat. Rupanya itu pria yang sama yang mewawancarainya tempo hari, yang meneleponnya kemarin untuk memberi kabar bahwa ia resmi diterima di Verdan.
Tara lekas menggeleng begitu senyum tipisnya kembali mengembang. Mengalihkan fokusnya pada pantulan diri di dinding lift berlapis cermin. Blouse kuning muda membuat wajah dan suasana hatinya cerah.
Begitu lift berdenting dan pintunya membuka, hawa dingin yang steril menyapu pori-porinya. Tara mengedarkan pandang ke seluruh penjuru ruangan.
Konsep open space tak bersekat dinding membuat kantor ini terasa luas tanpa kehilangan kesan hangat. Ada papan tulis penuh tulisan dan sticky notes warna-warni. Deretan meja yang sudah mulai terisi sejak pagi membuat kantor ini tampak hidup.
Atas arahan dari resepsionis di lobi depan tadi, Tara langsung berjalan menuju deretan meja panjang tim HRD yang berada di balik kaca transparan. Ia mendudukkan diri di salah satu kursi hingga suara seseorang membuatnya kembali berdiri.
“Ternyata sudah sampai.”
Pria oleng itu lagi. “Pagi, Mas. Saya duduk di mana?”
“Benar, kok, di situ.”
Raka meletakkan tasnya di salah satu ujung meja panjang yang membentang sejajar dengan dinding kaca. Meja itu diisi tiga kursi. Raka menempati sisi paling kiri, sementara tempat Tara berada di ujung satunya lagi, menyisakan satu kursi kosong di tengah sebagai pemisah. Di balik dinding kaca di sisi kanan, Tara bisa melihat aktivitas divisi finance yang mulai sibuk.
Meja Tara sendiri masih dipenuhi tumpukan dokumen lama. Dengan cekatan Raka memindahkannya ke sisi kursi yang kosong, lalu meletakkan map cokelat berisi berkas milik Tara di atas permukaan meja yang kini bersih.
“Ini berkas NDA, formulir data diri, sama akses email kantor sementara. Nanti kata sandi awalnya diganti sendiri, ya,” instruksi Raka, tanpa benar-benar menatap matanya. "Untuk laptop inventaris, harusnya sudah siap sebelum makan siang nanti. Sementara tunggu di sini dulu, ya.”
Tara mengangguk paham. “Baik. Terima kasih banyak, Mas Raka.”
***
Kecanggungan Raka membuatnya bergerak cepat. Terakhir kali ia memutuskan untuk bersikap sok akrab, ia justru mempermalukan diri di depan umum. Sekilas, Raka merasa Tara masih menyimpan jenaka di matanya yang membuat Raka malu sendiri. Kalau saja Ari tahu... pasti jadi bahan leluconnya berbulan-bulan.
“Rak.”
Nah. Baru juga dipikir. Ari baru datang dengan semangat yang tidak biasa di matanya. Padahal beberapa hari lalu ia konsisten datang lebih siang dan sibuk menggerutu.
“Kita jadi meeting pertama bareng Pak Danu, besok jam sembilan.” Ari kemudian melirik Tara. “Dateng pagi, Tara. Jangan sampe telat, ya.”
"Baik, Mas." Tara mengangguk sopan.