Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #6

Kontradiktif

Perjalanan pulang Raka dari Stasiun Pondok Ranji menuju kontrakan seringkali berjalan dalam mode autopilot. Tangannya lihai menarik-mengerem gas, tapi pikirannya tertinggal entah di mana. 

Pukul delapan lewat lima belas malam saat motor Raka tiba di kontrakan. Tanpa beban kerja di dalam tas, rasa pegal yang mencengkeram pundak juga tak kunjung hilang.

“Woi! Kiri, di rumput! Awas di rumput, eeee!”

“Ah ... kampret! Matiii ....”

Begitu melepas helm, suara bocah dan permainan gim dari ponsel mereka menjadi hal pertama yang Raka dengar. Di teras kontrakan sebelah kiri rumah Togar, tiga anak SD duduk lesehan di atas tikar tipis. Wajah mereka serius menatap ponsel masing-masing. Betapa Raka iri melihat hidup mereka yang tampak sederhana. Masalah terbesar mereka mungkin perkara kalah rank sebelum tidur. 

Gang kontrakan malam itu cukup ramai. Selain kesibukan para bocah, ada pula suara televisi yang terdengar samar menyiarkan sinetron, berpadu dengan aroma tumisan bawang dan sambal yang langsung menyerbu indra penciuman.

Perut Raka sontak berbunyi. Astaga.

Sayangnya, bayangan untuk memasak nasi dan menggoreng ayam katsu buatan ibunya yang tersimpan di freezer mendadak buyar saat sebuah suara berat menggelegar memecah gang.

“Hei! Baru pulang kau, Rak?”

Togar muncul dari balik pintu kontrakannya. Kaos oblong putihnya tampak agak melar berpadu dengan celana pendek motif kotak-kotak. Sebatang rokok kretek setengah habis terselip di antara jari telunjuk dan tengahnya.

“Eh, iya, Om,” sahut Raka. Jangan ajak main catur lagi...

“Sudah makan kau? Kutengok makin tipis saja badanmu itu. Kayak tripleks kelamaan dijemur,” cerocos Togar sambil berkacak pinggang, matanya memindai Raka dari bawah ke atas.

Raka terkekeh geli. “Belum, Om. Tapi aman, di dalam ada lauk, kok. Tinggal goreng.”

“Halah, palingan mi instan atau telor ceplok lagi. Macam gak tahu saja aku isi kulkas anak bujang.” Togar mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya ke udara.

Belum sempat Raka membalas, pintu dalam rumah Togar terbuka lebih lebar, kemudian Rosa muncul. Tangannya beralaskan kain lap, membawa sebuah mangkuk kaca berukuran sedang yang mengepulkan uap panas. Aroma manis, gurih, dan rempah segar langsung menguar bebas.

“Jangan kaumarahi saja anak orang itu, Pak,” tegur Rosa lembut, membuat Togar langsung terdiam dan mematikan rokoknya di asbak dekat tiang.

Rosa mendekati pot-pot pembatas kontrakan mereka. 

“Ini, Mamak baru selesai masak ayam kecap,” kata Rosa, menyebut dirinya 'Mamak' seperti cara anak-anaknya memanggilnya. “Kebanyakan masak tadi. Daripada mubazir, kau habiskanlah, ya?”

“Lho, gak usah repot-repot, Tante ... eh, Mamak. Raka bisa masak katsu, kok, dibawakan Ibu waktu pulang ke Bekasi,” tolak Raka sungkan, meski matanya tak bisa berbohong kalau ia menatap lapar ke arah mangkuk itu.

Lihat selengkapnya