[Nak… maaf, Dika bilang laptopnya mati terus.]
Begitu isi pesan yang datang dari ibunya saat rapat tadi pagi. Pesan yang sukses membuat suasana hati Raka anjlok. Drastis.
Selama bekerja kantoran, Raka selalu berusaha memisahkan urusan rumah dan pekerjaan serapi mungkin. Masalah rumah tetap di rumah. Pekerjaan kantor tetap di kantor. Sesederhana itu teorinya. Praktiknya? Sering kali berantakan.
Apalagi kalau pesan dari ibunya sudah mulai diawali dengan kata maaf. Biasanya tidak jauh dari kebutuhan mendadak. Uang tambahan. Uang kuliah Dika. Atau hal darurat yang bukan lagi urusannya. Raka selalu bisa menebak bagian akhirnya. Bagiannya. Yang mau tidak mau akan mencari cara untuk menyelesaikan semuanya.
Matahari sudah menyongsong ke barat. Seperti biasa, waktu terasa melambat setelah jam tiga sore. Beberapa orang sudah mulai membahas makan malam, pulang cepat, atau drama deadline yang sengaja ditunda-tunda. Sementara Raka masih menatap layar laptopnya tanpa benar-benar memerhatikan laporan yang terpampang di layar.
“Rak.” Ari menyenggol kursinya menggunakan lutut. “Lo ikut?”
“Hm? Ikut apa?”
“Lah, belum liat grup lo, ya? Anak-anak ngajak makan.”
“Oh.” Raka baru kembali ke kesadaran penuh. Ia melirik sekilas grup obrolan yang sudah ramai sejak setengah jam lalu membahas rencana makan-makan sore ini, tepat setelah Danu pamit keluar kantor lebih awal.
Tara yang sejak tadi fokus mencari referensi di mejanya turut mendengar interaksi itu.
“Tara ikut aja,” kata Ari tiba-tiba. “Makan-makan kita.”
Alis Tara terangkat. “Hah? Makan-makan, Mas?”
“Iya. Dekat kantor, kok. Bareng yang lain juga.”
Tara tampak menimbang sesaat. “Oh, gak ikut dulu kayaknya, Mas. Gak kenal juga sama anak-anak divisi lain.”
“Makanya kenalan.”
“Kapan-kapan aja, Mas. Lanjut saja,” Tara bersikeras halus.
Kedua tangan Ari terangkat dua-duanya, menyerah. “Okeee ... baik.”
Ari kemudian kembali berbalik ke arah Raka, menurunkan volume suaranya dengan wajah tanpa dosa. “Eh, tapi lo ikut makan kan, Rak? Sekalian gue mau booking lo buat urusan vendor venue besok-besok.”
“Vendor venue?" Raka mengernyit.
“Iya. Buat proyek ini, lo yang pegang semua administrasi dan kontak vendor dari kantor, ya? Biar gue yang bagian keluar buat survei lapangan.” Ari terkekeh santai, terang-terangan menunjukkan niat malas-malasannya.
“Lo mau? Capek, lho, Ri. Wara-wiri.”
Ari segera menggeleng. “Aman aja. Justru gue pengin menghirup udara bebas di luar kantor pas jam kerja. Kayak acara kemarin, kan, lo yang kebagian survei luar. Sekarang giliran gue lah, ya?”
Raka mendengar betapa gamblangnya alasan Ari yang ingin 'melarikan diri' dari kantor demi bisa jalan-jalan berkedok kerjaan. Bahkan mungkin bisa langsung pulang jika urusannya sudah beres.