Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #8

Pesan Larut Malam

“Kan, Mas udah pernah bilang, nabung, Dik. Jaga-jaga kalau ada masalah begini.”

Ada kefrustrasian yang kentara dalam tiap kata yang ditekankan Raka. Sejak mulai kuliah, Dika memang sesekali kerja sambilan. Tapi entah ke mana saja aliran dana adik bontotnya itu.

“Iya, Mas. Nabung, mah, nabung. Cuma kepake terus," ucap Dika lesu di seberang telepon.

“Kalau tiap ada apa-apa langsung habis, terus gunanya nabung buat apa?”

“Iya, Mas. Maaf.”

Suara Dika yang makin memelas membuat Raka menghela napas. Sudahlah. Kalau sudah begini, biasanya percakapan tidak akan ke mana-mana.

“Servisnya habis berapa?”

“Tadi kata tukangnya sekitar dua jutaan, Mas.”

Mata Raka terpejam sesaat. Dua juta bukan angka yang langsung membuatnya melarat detik ini juga, tapi juga bukan angka yang bisa keluar begitu saja tanpa menggeser rencana finansialnya yang lain.

“Ya udah. Nanti kirim hasil pengecekan dari tukang servisnya ke Mas."

“Mas, gak usah buru-buru juga gak apa-apa, kok.”

“Dikirim aja dulu, Dika.”

“Mas—”

“Dikirim aja.”

Dika terdiam lagi, kali ini cukup lama. “Maaf ya, Mas. Jadi ngerepotin lagi.”

Pengakuan itu entah bagaimana seketika melunakkan hati Raka. “Lain kali kalau ada apa-apa gak usah ngomong ke Ibu. Jangan bikin Ibu kepikiran.”

“Iya, Mas.”

“Ya udah, sana. Yang penting fokus kuliah dulu. Jangan kebanyakan main futsal. Jangan pacaran dulu kalau belum ada modalnya. Nabung.”

Dika spontan tertawa. “Soal pacaran? Oke, siap. Tapi kalau soal futsal? Pikir-pikir dulu, ya, Mas.” 

“Dasar!” Raka ikut mendengus geli, ketegangan di rahangnya sedikit mengendur. “Ya udah, nanti kabarin lagi.”

Lihat selengkapnya