Sudut bibir Raka terangkat tipis, menatap ruang obrolan di layar ponselnya. Ia masih tak habis pikir dengan kecerobohannya kemarin. Niat hati menjadwalkan draf pengingat rapat dan timeline untuk pukul sepuluh pagi, kepalanya yang kusut malah memilih pukul sepuluh malam.
[Keliru.. harusnya email terjadwal 10 AM, bukan PM.]
[Gue udah pulang dari tadi kok.]
Dan dua menit setelah mengirim pesan klarifikasi itu, Tara hanya memberi emoticon senyum dan jempol sebagai jawaban.
Sederhana, tapi efeknya bertahan hingga pagi ini. Dengan punggung tersandar di kursi kerja, Raka sedikit merasa bahwa ada orang yang cukup mengkhawatirkannya di sini, selain Om Togar dan Mamak Rosa. Ah. Atau ini hanya perasaannya saja?
"Rak."
Lamunan asal Raka buyar. Buru-buru ia mengunci layar ponsel. Ari meletakkan selembar print-out timeline ke depan Raka. Timeline yang baru ia kirim semalam. "Yang ini. Bagian konsep acara."
“Kenapa?”
“Menurut gue, seminggu kecepetan," cetus Ari sambil mengetuk-ngetuk jarinya di atas kertas. “Presentasi proposal konsep ke Danu memang bisa dua-tiga kali revisi, tapi better dimatangkan di awal, supaya buntutnya gak bolak-balik. Gue tahu targetnya sebelum Q3, tapi susun konsep, cari venue, terus cocokin budget dalam waktu tujuh hari? Kayaknya terlalu mepet.”
Raka memperhatikan lagi timeline yang sudah ia susun. Raka menarik kertas itu, meneliti baris-baris angka dan tanggal yang ia susun. Ketat, memang. Namun, dalam kalkulasinya, ini masih masuk akal.
"Kalau begitu, kita geser beberapa hari," ujar Raka mengalah, dengan pasrah menggerakkan tetikusnya.
"Eh, sebentar."
Suara interupsi datang dari Tara, membuat Raka dan Ari menoleh serentak.
"Kalian mau ubah timeline yang baru dikirim semalam?"
"Iya," sahut Ari santai. "Minggu pertama kependekan."
Tara mengangguk tanpa ekspresi berlebihan. "Kalau diubah sekarang, aku pakai yang mana buat acuan?"
Kening Ari berkerut. "Maksudnya?"
"Aku lagi buat breakdown tugas dari timeline yang kemarin Mas Raka kirim." Tara memutar laptopnya, menunjukkan draf Excel yang baru setengah jadi. Di sana sudah berjejer kolom estimasi durasi dan kebutuhan logistik untuk tiap tahap. "Saya gak masalah kalau ada revisi. Cuma takut acuan kita beda."
Ari menatap remeh apa yang ada di laptop Tara, lalu beralih pada Ari.
"Nanti saya pakai versi lama, Mas Raka dan Mas Ari pakai versi baru. Begitu meeting dengan Pak Danu, datanya malah tabrakan," lanjut Tara tenang. Tidak ada emosi, tidak ada kesan menggurui. Ia hanya sedang menyodorkan fakta yang tak terbantahkan.
"Ini baru bahas sekilas doang, sih." Ari menghela napas.
"Paham," jawab Tara. "Tapi ada Pak Danu juga yang mungkin punya spekulasi lain yang mungkin bikin rencananya sendiri di next rapat berdasarkan yang barusan kalian diskusikan. Mungkin lebih baik Mas Ari reply-all saja di email Mas Raka yang kemarin? Sampaikan kalau timeline sedang ditinjau ulang, biar ada jejak diskusinya. Jadi aku tahu kapan harus berhenti membuat breakdown, dan Pak Danu juga tahu kalau ada perubahan."
Senyum kecil Raka lolos begitu saja. Ia melepaskan cengkeramannya dari mouse. "Ya udah, begitu aja."
Ari mendengus, tawa pasrah keluar dari hidungnya. "Baru juga drafnya gue senggol, belum tentu si Raka langsung setuju," gumamnya pelan, berusaha menyelamatkan harga diri.
"Berarti aku lanjut kerjaan yang sekarang dulu?" tanya Tara, mengabaikan gumaman Ari yang terlalu minor untuk ditanggapi.
"Iya, sementara pakai yang itu dulu. Nanti tinggal disesuaikan. Timeline fix pasti harus di-acc Pak Danu dulu," jawab Raka.
"Oke." Tara kembali menatap laptopnya, seolah interupsi barusan bukan hal besar. Namun bagi Raka? Itu jelas hal besar.
Selama ini, lingkungan kerja Raka didominasi oleh orang-orang seperti Ari—keras kepala dan dominan. Dan Raka, demi efisiensi energi, biasanya memilih mengalah dan mengiyakan tanpa memperpanjang. Bukan karena tak punya prinsip, hanya malas berdebat. Akan tetapi, Tara membawa ritme baru. Gadis itu tidak sekeras kepala Ari, pun tidak mudah hanyut mengikuti arus. Seperti saat rapat pertama mereka dengan Danu tempo hari, Tara menyuarakan pendapatnya tanpa takut. Tegas, jelas, dan dingin.
Refleks, Raka menatap siluet kepala Tara dari samping untuk beberapa detik, sebelum akhirnya kembali melihat timeline yang harus ia perbaharui.
"Lumayan juga," gumam Ari yang baru kembali ke mejanya, masih agak dongkol.
"Hah?"