Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #10

Dadakan

Hari Minggu ini seharusnya menjadi hari rebahan di rumah bagi Raka, tapi mendadak bergeser menjadi hari kerja. Ini bukan salah kantor, bukan juga sepenuhnya salah Ari yang tiba-tiba mengajak survei venue via grup chat yang isinya bertiga dengan Tara kemarin sore.

[@all Temenin gue survei dong ... Sekalian gue mau ke arah sana besok. Kalau kalian mau, kita ketemuan di Stasiun Tanah Abang lagi. Gimana?]

Sekarang, barulah jelas bagi Raka kalau sikap baik Ari yang berkeras mengajak mereka makan malam hingga mengantarkan pulang hari Jumat kemarin memiliki buntut panjang. Ditambah lagi, pagi tadi seseorang dari tim Finance yang menghitung total patungan makan-makan menyebutkan di grup besar kalau tagihan anak HR—yang berarti porsi Raka dan termasuk Tara—sudah dibayarkan lunas oleh Ari.

Ari sendiri sempat menggerutu panjang saat mengantar mereka ke stasiun malam itu. Katanya, kalau begini caranya, ia seperti kerja double. Satu untuk operasional kantor, satu untuk kepanitiaan. Raka hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Sudah biasa menghadapi keluhan Ari. Dan kalau dipikir-pikir, Danu memang paham motif rekan kerjanya, sehingga membuat aturan untuk tidak menyentuh jam kerja kantor untuk urusan survei.

Jadi, begitu ada ajakan dadakan lewat grup chat bertiga itu, filter otomatis Raka yang tidak enakan dan tidak tega, tak bisa membiarkan Ari menyurvei lokasi sendirian. Namun, dugaannya melenceng. Acara survei dadakan itu rupanya tidak hanya menggerakkan dirinya, tapi juga Tara.

Raka sempat tertegun saat keluar dari gate Stasiun Tanah Abang. Perempuan itu sudah berdiri di sana, mengenakan kemeja biru muda longgar dan celana jins hitam yang kasual. Rambutnya diikat satu, menyisakan beberapa helai yang lepas tertiup angin.

"Loh, ikut juga? Kayaknya semalam di grup gak jawab," tegur Raka begitu mendekat.

Tara menyunggingkan senyum tipis, lalu mengangkat bahu sekilas. "Aku memang free hari ini, Mas. Lagipula sekalian pengin keluar. No pressure, kok."

Raka tertawa pendek. Ia berpikir mungkin karena Tara lebih muda darinya, sehingga gadis itu punya energi lebih untuk ukuran hari libur. Tak lama kemudian, Ari muncul dari arah tangga sambil membawa kopi dua kopi botolan dan menyerahkan pada mereka satu per satu.

"Wah, lengkap!" Ari menyengir lebar, matanya berbinar puas. "Sekalian healing tipis-tipis kita."

"Thanks." Raka mendengus tawa saat menerima botol kopi itu, langsung membaca gelagat. "Lo ngapain bayarin makan gue sama Tara, Ri? Buat ini?"

Mata Tara membulat kaget. "Eh, serius? Kemarin bukannya anak finance bilang hitung-hitungannya mau diinfo di grup anak kantor kalian?"

"Iya, tapi dibayarin si Ari."

"Yee, beprasangka buruk aja lo!" elak yang bersangkutan. Ari buru-buru berjalan mendahului mereka, gestur tubuhnya kentara sekali sedang menghindari interogasi lebih lanjut. "Gue emang mau traktir kalian. Kita, kan, satu tim."

Di belakang punggung Ari, Tara langsung melirik Raka yang segera dibalas gelengan pelan. Raka yakin, tanpa dijelaskan panjang lebar pun, Tara bisa melihat sendiri kenyataannya. Namun, demi menjaga ritme kerja kelompok ini tetap sehat, Raka memilih tak berkomentar lebih panjang dan mengucapkan terima kasih sebagai gantinya saat menyusul langkah Ari.

***

Lihat selengkapnya