Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #11

Perang Dingin

Senin pagi yang riuh. Raka menatap draf layout kasar buatan Tara yang dikirim ke grup chat mereka bertiga semalam. Catatan itu begitu detail, bahkan menjadi dasar utama bagaimana kesepakatan dengan pihak vendor venue berkembang hari ini.

Meski urusan venue menjadi tanggung jawab Ari, Tara yang ditugaskan membantu mereka sama sekali tidak perhitungan masalah bekerja sebagai asisten—selagi tugas itu masih berkaitan dengan proyek acara ini. Namun, di mata Tara, usulan awal dari Ari sebelumnya memang cenderung kurang efisien. Dalam catatan evaluasinya, Tara juga mempertegas hal-hal sepele yang bisa berdampak besar jika diabaikan. Hal yang luput dari pandangan Ari. Contohnya seperti ketiadaan titik tempat sampah yang memadai di denah, hingga ketersediaan air isi ulang untuk para peserta nanti. Ari tampaknya terlalu fokus pada kemegahan panggung, bukan kenyamanan operasional.

Raka tersenyum simpul. Dalam perjalanan pulang dari Tanah Abang semalam, ia melihat Tara langsung menyambar ponsel begitu kereta bergerak. Ia sibuk mencicil corat-coret catatan sebelum dikirim ke grup chat mereka.

“Senin aja kali dilanjut,” tegur Raka, melirik pergerakan jemari Tara di layar ponsel.

“Tanggung. Senin itu jatah ngerjain tugas yang lain,” sahut Tara tanpa menoleh.

“Kok gitu?"

“Biar timeline buatan orang gak meleset,” sindir Tara jenaka. “Iya, kan? Iya, dong.”

Raka tidak bisa menyembunyikan senyum yang menyembul di pipinya. Jujur saja, baru kali ini ia melihat seseorang dengan etos kerja setinggi ini di sekitarnya. Apalagi, status Tara di Verdan hanya pekerja sementara. Begitu tersisa satu stasiun sebelum Pondok Ranji disebut sebagai perhentian selanjutnya oleh suara mesin otomatis kereta, Raka tergugah bertanya sesuatu.

“Tar."

"Iya?"

"Kalau misal, ya ... ada kesempatan kerja tetap di Verdan, mau ambil?"

Sebelah alis Tara terangkat. "Posisi apa dulu, nih?"

"HRD. Gantiin Ari," seloroh Raka setengah berbisik.

Tawa Tara pecah saat itu juga, tertahan oleh telapak tangannya sendiri agar tidak terlalu keras. Di antara riuhnya gerbong campur malam itu, ada koneksi yang menyambung di antara dua kepala.

Namun, koneksi yang terasa manis semalam, mendadak berubah menjadi bumerang yang memanaskan dada pada Senin siang ini.

Raka tidak menyangka bahwa draf coretan tangan yang dikirim Tara ke grup chat internal mereka bertiga justru dimanfaatkan Ari untuk menyelamatkan harga dirinya. Entah karena merasa kurang kompeten dibanding Tara, atau memang begitu sifat aslinya. Begitu rapat bersama Danu dimulai, topeng ramah Ari seolah sengaja dilepas bebas ke tanah.

“Ini layout terbaru yang sudah dimatangkan,” ujar Ari di depan proyektor dengan tegas, enggan disanggah. “Meja registrasi yang tadinya di dalam ruangan, saya pindah di empat titik pintu utama, supaya gak terjadi penumpukan.”

Tara terbengong-bengong menatap layar. Gambar coretan tangannya yang ia kirim ke grup chat kemarin malam telah berubah menjadi versi rapi di dalam salindia presentasi Ari. Bukan hanya soal meja registrasi, Ari juga memaparkan usulan-usulan Tara yang lain terhadap layout-nya—mulai dari creative flow, penempatan titik sampah, ketersediaan air, hingga konsep games dan awarding night yang sempat mereka bahas. Tapi, semua itu dilontarkan seolah-olah murni berasal dari kepala cowok itu sendiri.

Lihat selengkapnya