Tak ada yang benar-benar berubah meski hari berganti. Ari masih menganggap Tara tidak ada di ruangan itu. Sikapnya baru normal apabila ada orang tambahan di ruangan, yakni Danu. Jika hanya mereka bertiga, Ari hanya bicara pada Raka. Jadi, nyaris seharian, ruang HRD dikepung keheningan yang cukup canggung. Begitu Ari melesat keluar saat jam pulang, Raka termenung menatap baris laporan di layar laptopnya yang sebenarnya bisa ia lanjutkan besok pagi.
Tara yang sedang merapikan barang-barang ke dalam tasnya melirik pria di sebelahnya. "Gak balik? Nunggu jalanan rada lengang, ya?" tebak Tara, mencoba memecah sunyi.
Raka menghentikan ketikannya dan mengangguk. "Biasanya, sih, gitu, Tar. Sengaja nunggu jam macet lewat. Tapi kayaknya hari ini gue mau langsung balik ... cuma mau cari makan dulu. Laper banget."
"Ohh—"
"Mau temenin gue makan, gak?"
Tara terbelalak kaget. Gerakan tangannya yang sedang ritsleting tas langsung terhenti. Ia menatap Raka, memastikan apakah pendengarannya salah atau pria yang biasanya irit energi ini sedang kesambet sesuatu karena senyap yang menguasai ruangan hari ini.
Namun, Raka justru membalas tatapannya dengan ekspresi lelah yang jujur. Dan entah dorongan dari mana, Tara akhirnya mengangguk.
Dua puluh menit kemudian, di sinilah mereka berakhir. Di sebuah meja panjang berukuran enam orang di warung mi keriting legendaris dekat Stasiun Sudirman. Tara dan Raka duduk berhadapan. Empat bangku lainnya sudah diisi oleh pekerja kantoran lain, begitu pula meja-meja di sekitar mereka yang sudah dipadati pengunjung pasca-jam pulang kerja.
Wangi minyak bawang putih dan aroma khas wijen menguar setiap kali panci besar di gerobak depan diangkat. Di sela-sela denting sendok yang beradu dengan gelas berisi es teh manis atau jeruk peras, Tara tampak tak sabar menunggu pesanannya datang.
“Kirain lagi diet, gak makan mi,” celetuk Raka, membuka obrolan.
“Memang sebenarnya udah penasaran banget sama mi dekat stasiun ini. Ramai terus,” jawab Tara santai. “Pengin tahu juga, orang-orang ke sini memang karena beneran enak, cuma viral, atau karena gak banyak pilihan makanan lain di sekitar sini?"
Raka tertawa pendek. “Gue sering mampir ke sini kalau malas langsung balik ke kontrakan. Mudah-mudahan lo suka, ya.”
Senyum Tara mengembang tipis. Beberapa saat sebelum mangkuk mi mendarat, ponsel Tara yang tergeletak di atas meja berkedip singkat menampilkan notifikasi pesan masuk. Raka meliriknya sekilas sebelum melempar pertanyaan ragu.
“Makan bareng berdua gini ... gak apa-apa, Tar?”
“Hm?” Tara mengangkat kepala. “Ya, gak masalah. Kan, tadi udah bilang kalau penasaran juga sama mi keriting di sini.”
“Maksud gue ....” Raka berdeham kecil, agak kikuk. “Takutnya ada cowok lo yang marah, gitu.”
Spontan tawa Tara lepas. Raka pasti beranggapan pesan yang masuk di ponselnya itu dari pacar.