Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #13

Demi Rasa Nyaman

Sejak kembali menginjak ruang HRD pada Rabu pagi itu, Raka melihat Tara dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi heran melihat Tara yang konsisten tenang di mejanya. Terbukti bagaimana siang ini Ari sedang sibuk mengunyah camilan sembari berselancar di internet, sesekali melempar gumaman malas. Walau telinga Tara pasti panas mendengar celoteh sembarangan pria itu sejak awal minggu, perempuan itu memilih diam, mengatur napas secara berkala, dan fokus pada pekerjaan di layar laptopnya.

Ketahanan mentalnya mengingatkan Raka pada obrolan mereka semalam. Tanpa adanya sosok Ari yang mendominasi atmosfer, percakapan mereka berangsur luwes. Dari sana Raka baru tahu bahwa Tara adalah seorang putri tunggal yang mandiri. Sebaliknya, Tara juga mulai membaca posisi Raka sebagai anak pertama yang otomatis menjadi tulang punggung keluarga sejak ayahnya pensiun.

“Simpel sebenarnya, Mas,” ujar Tara di sela kunyahannya. “Aku mikirnya, orang yang suka buat ulah gitu memang sengaja memancing respons emosional kita. Dia berharap kita bereaksi pakai amarah. Nanti ujung-ujungnya, malah dia yang playing victim di depan Pak Danu.” Tara menjeda kalimatnya dengan menenggak es jeruknya hingga tinggal separuh. “Kerja gak butuh drama, cuma butuh duit.”

Raka sempat terkekeh mendengar cara berpikir praktis tersebut, meski rasa penasarannya belum tuntas. “Iya, lo pernah bilang soal itu. Tapi, kok bisa lo betah diam aja? No offense ya, Tar, tapi mengingat gimana kritisnya lo, pengendalian diri lo kayak ... aneh aja."

“Memangnya Mas Raka maunya liat aku berubah jadi singa yang bangun dari tidur, terus ngamuk-ngamuk di kantor?” tawa Tara berderai renyah.

“Gak gitu juga. Maksud gue, hebat aja bisa nahan diri segitunya. Padahal waktu awal-awal diskusi soal update timeline, lo yang paling pertama komplain biar ada jejak digitalnya di email.”

Tara manggut-manggut, menuntaskan kunyahannya sebelum kembali menatap Raka lurus-lurus. "Bukannya Mas Raka sendiri yang jauh lebih tahan?"

Sengaja, Tara membiarkan pertanyaan itu menggantung di tengah riuhnya suasana warung mi itu. Ia membiarkan Raka terpaku oleh pertanyaannya sendiri yang dilempar balik. Ibarat dalam permainan catur, selama ini Raka menyadari dirinya terlalu lama berada dalam mode bertahan, bukan serang balik. Hal itu pula yang membuatnya kerap merasa kehilangan kuasa untuk mengatasi sifat dominan Ari di kantor. Hingga akhirnya ia selalu memilih mengalah.

“Sebenarnya, kita selalu punya pilihan, kan, Mas?” Tara memajukan bibirnya sekilas. “Tapi kadang kita terlalu takut sama output-nya, karena udah terbiasa dengan respons yang aman-aman aja.”

Pernyataan itu telak menghantam Raka di tempat. Ia seperti sedang disodorkan sebuah cermin besar yang memperlihatkan ketakutannya sendiri. Ketakutan bahwa jika ia berani menangkis sikap Ari, kenyamanan semu yang ia bangun di kantor akan runtuh dan berganti dengan hari-hari yang runyam. Membantu rekan kerja sewajarnya memang tidak salah, tetapi membiarkannya bertindak semaunya adalah hal lain. Apalagi sikap liciknya terhadap Tara.

“Jadi sebenarnya, lo takut atau gak sama Ari?” Raka menyempilkan tawa pendek di ujung pertanyaannya, mencoba mencairkan suasana yang mendadak serius.

“Lebih takut sama masalah yang bisa terjadi kalau aku lepas kendali, Mas. Takutnya merembet ke pekerjaan Mas yang lain. Waktu kontrakku di Verdan ini singkat, cuma sebentar. Aku gak pengin kalau nanti malah kerjaan Mas Raka yang ikut kacau karena urusanku. Jadi, ya udah. Diam aja.”

Sudut bibir Raka terangkat spontan. Namun sebelum ia sempat mengolah isi kepala, Tara sudah menambahkan dengan nada yang lebih dingin. “Padahal kalau aku cuma mikirin diri sendiri mah ... yah, aku skakmat. Masa mau aja ditindas diam-diam?”

Lihat selengkapnya