Hari-hari dengan coretan merah di kalender Raka akhirnya menemui pangkalnya.
Meski sudah memprediksi kesibukan yang akan terjadi menjelang akhir bulan ini, ketahanan mental tim HRD tetap saja diuji. Terutama bagi Raka, yang sekaligus dikejar laporan bulanan. Dua layar monitor di mejanya sama-sama dipenuhi oleh deretan angka yang memusingkan mata. Layar sebelah kiri menampilkan Monthly HR Report yang harus diserahkan kepada Danu secepatnya. Rekap headcount, daftar karyawan baru, kontrak kerja yang akan berakhir, progres rekrutmen beberapa divisi, hingga pergerakan karyawan bulan berjalan masih menunggu diperiksa satu per satu sebelum diubah menjadi laporan yang layak naik ke meja manajemen.
Sementara di layar sebelah kanan, grup WhatsApp koordinasi vendor tak pernah benar-benar sepi. Pihak percetakan menanyakan revisi ukuran backdrop. Pihak hotel meminta kepastian jumlah peserta sementara. Pihak EO mengirim contoh draf desain name tag yang perlu segera disetujui. Proyek athering dan pekerjaan utama berjalan berdampingan. Tidak ada yang bisa menunggu lebih lama dari yang lain.
“Rak,” panggil Ari dari balik sekat meja. “Anak Marketing ada yang komplain ke gue. Katanya kuota cuti mereka masih berantakan di sistem.”
Raka menghentikan ketikannya sebentar. “Yang siapa?”
“Nih,” Ari memutar monitor laptopnya sedikit ke arah Raka. “Gue juga lagi cek payroll. Takutnya ada approval dari atasan yang kelewat. Lo bantu cek di aplikasi, ya.”
“Oke.”
Tanpa banyak tanya dan tanpa memprotes beban kerjanya sendiri, Raka langsung membuka tab baru di perambannya. Laporan bulanan untuk Danu yang sejak pagi tadi ia cicil terpaksa dibiarkan menggantung begitu saja di monitor sebelah kiri. Ketukan kibor terdengar sibuk bersahutan. Raka membuka basis data cuti, mencocokkan tanggal pengajuan, persetujuan atasan, lalu memeriksa riwayat absensi yang tercatat di sistem.
Di sisi meja Raka, Tara yang tengah mengecek data registrasi peserta seketika tertegun. Terang-terangan ia menatap layar laptop Raka, lalu menatap sinis Ari yang juga tampak sibuk. Padahal kalau tidak salah dengar, tadi Danu sempat menghampiri Raka dan meminta laporannya dipercepat, Dan belum satu jam berlalu dari instruksi tersebut, pintu ruang kerja Danu kembali terbuka.
“Rak,” panggil Danu.
“Iya, Pak?” Raka menegakkan posisi duduknya.
“Vendor ada kendala, gak? Semua aman?”
“Masih di-follow up terus, Pak. Sejauh ini linimasa masih sesuai jadwal.”
Danu mengangguk, lalu pandangannya berpindah ke Ari. “Ri, pembicara jadinya siapa finalnya? Psikolog, kan?”
“Rio Santoso, Pak,” jawab Ari secepat kilat. Mereka memang sudah sepakat untuk mengundang seorang psikolog untuk sesi materi internal. “Yang jadwalnya cocok sama tanggal acara kita baru Dokter Rio sama Dokter Helena. Tapi saya lebih prefer Rio, cara edukasinya lebih ringan dan fun. Masuk banget ke tema besar kita,” lanjut Ari meyakinkan.
“Oke. Jangan lupa tanya ke dia, perlu fasilitas antar-jemput dari kita atau enggak. Materinya juga jangan lupa disegerakan.”
“Siap, Bos.”
Danu kemudian menatap Tara. “Tara, kamu sudah summary data registrasi? Sejauh ini ada berapa yang daftar?”
“Lima puluh empat orang, Pak.”
“Aduh. Sedikit sekali. Belum ada setengahnya itu,” gerutu Danu sembari memijat pelipisnya. “Tolong email blast ulang sore ini, remind mereka paling lambat kapan harus isi. Kejar SPV-nya supaya anak buah mereka pada mau ngisi.”
Tara mengangguk patuh. “Baik, Pak.”