Jumat menjelang makan siang, usai mengirim Monthly HR Report kepada Danu, Raka dipanggil masuk ke ruangannya. Hampir satu jam berlalu. Saat akhirnya pintu ruangan Danu terbuka, wajah Raka tampak pias. Ia kembali ke mejanya tanpa sepatah kata pun. Kursinya ditarik pelan, lalu ia duduk dengan gerak-gerik yang tampak dipaksakan tenang.
Ari melirik sekilas dari mejanya, sementara Tara ikut menoleh hati-hati. Tidak ada yang berani membuka mulut. Belum sampai lima menit suasana tegang itu mengendap, pintu ruangan Danu kembali terbuka lebar.
“Rak.”
Raka refleks menegakkan punggung.
“Masih ada yang kurang.”
“Iya, Pak?”
“Data turnover sama recruitment progress bulan ini gak sinkron.” Raka mengangguk kaku. “Nanti saya cek lagi, Pak.”
“Bukan dicek,” suara Danu datar, tapi menekan. “Tapi dipastikan. Saya gak mau angka yang naik ke direksi beda sama data aslinya di lapangan.”
“Iya, Pak.”
“Sama satu lagi,” Danu menatap Raka beberapa detik, menilai keletihan yang menggelayut di wajah stafnya. “Fokus, Rak.”
Danu langsung berbalik ke ruangannya tanpa menunggu respons, meninggalkan sunyi senyap yang canggung.
“Si Bos kalau urusan payroll sama laporan akhir bulan emang paling sensitif," celetuk Ari.
Raka tidak menyahut. Tetikusnya sudah digerakkan cepat, membuka kembali berkas laporan yang baru saja dikoreksi. Namun belum juga lima menit ia mengotak-atik data tabel, ponselnya di atas meja bergetar beruntun tanpa jeda. Pesan dari tempat cetak banner dan kaos untuk acara masuk bertubi-tubi. Disusul notifikasi surel berisi berkas konfirmasi internal yang dikirim oleh tim cabang daerah. Rentetan obrolan WhatsApp dari vendor suvenir yang meminta kepastian desain sebelum jam makan siang. Jemari Raka refleks gemetar, hendak membuka semuanya dalam satu waktu.
Ini semua adalah dampak dari keputusan rapat terakhir yang mendadak memajukan tanggal pelaksanaan acara karena jadwal semula bentrok dengan agenda penting di cabang lain. Akibat waktu persiapan yang terpangkas drastis, timeline logistik yang semula aman kini berkejaran dengan waktu, membuat semua vendor panik menagih persetujuan dari Raka.
“Sini.” Suara Tara memotong gerakan panik itu. “Tunjukin yang bisa aku kerjain.”
"Gak usah, Tar.”
“Mas Raka,” Tara menatapnya lurus-lurus. “Kalau semua dipegang sendiri ...” Tara menunjuk tiga notifikasi yang masih berkedip di layar kunci ponsel Raka. “...yang dapat omelan dari Pak Danu nanti tetep kamu.”
Raka menatap layar ponselnya, lalu beralih menatap Tara selama beberapa saat. Pertahanannya runtuh juga.
“Bantu follow up desain banner, ya? Pastikan sesuai sama ukuran yang dipakai di panggung hotel. Kalau mereka udah kirim hasil revisinya, cross check ke Pak Danu dulu. Tanya udah oke atau masih ada yang mau diubah.”