“Sorry. Omongan gue di kereta tadi agak kelewatan.”
Tara masih bergeming menatap Raka yang kini benar-benar ikut turun bersamanya di peron Stasiun Rawa Buntu. Mereka berjalan lambat sebelum akhirnya memutuskan duduk bersisian di salah satu bangku tunggu besi yang kosong. Gelombang penumpang malam itu tampak sudah berangsur keluar melewati pembatas pintu keluar.
Masih irit bicara, Raka hanya mengamati ketika badan kereta itu perlahan menjauh. Embusan angin yang dihasilkan oleh laju besi yang berlalu membuat sisa kuncir rambut pendek Tara sedikit bergoyang, sementara cowok di sebelahnya tampak merenung sesaat.
“Gue gak negur lo di kantor, Tar, karena gue tahu itu cara lo buat bertahan hidup,” Raka akhirnya menoleh, menatap Tara lurus-lurus tanpa sisa ketegangan profesional seperti saat di kubikal. “Lo diam-diam buka kerjaan freelance lain di jam kerja Verdan, berharap bisa beresin keduanya tanpa buat masalah apa pun, kan?”
Tara membuang pandang ke sembarang arah. Kebenaran itu membuatnya ciut seketika. Ia memang suka membuka pekerjaan lain di jam kerja, bukan hanya saat jam makan siang seperti yang Raka bilang saat di kereta.
“Tapi Mas Raka tahu itu tetap salah," lirihnya, makin merasa bersalah.
“Lo salah kalau hasil kerja kacau karena gak fokus, Tara. Kayak gue. Lo lihat sendiri, kan, gimana perlakuan Pak Danu waktu gue bikin data selisih di laporan tadi siang?”
Tara mengembus napas kasar. Di saat kebanyakan orang di lingkungan korporat akan mencari kambing hitam atau melampiaskan stresnya pada orang lain, Raka justru otomatis menyalahkan diri sendiri. Padahal, pekerjaan limpahan dari Ari juga pasti membuatnya kewalahan hingga tak fokus.
Apa sih yang sebenarnya bikin cowok ini jadi begini? batin Tara, dadanya mendadak terasa sedikit sesak oleh realitas tersebut.
“Besok kita ketemu di kafe sekitar sini. Biar lo gak kejauhan dari rumah. Nanti gue cari tempatnya,” ujar Raka tiba-tiba, merapikan letak tas ransel hitamnya.
Tak tanggung-tanggung, Raka memutar haluan keputusannya begitu cepat hingga sulit bagi Tara mencerna motif di balik aksinya. Ya, otak Tara seperti dirancang untuk selalu mencari fungsi dan arti di balik sebuah tindakan, sebagaimana ia selalu mengobservasi hal-hal kecil di sekelilingnya. Namun, Raka termasuk tipe manusia yang tidak mudah untuk diprediksi secara mekanis.
“Kenapa tiba-tiba berubah pikiran, Mas?” tanya Tara setengah berteriak, begitu Raka sudah berdiri dan mulai melangkah lebar menyeberang menuju peron jalur seberang untuk menaiki KRL arah balik menuju Tanah Abang.
Raka menoleh sekilas, menyunggingkan senyum santai. “Anggap aja ini cara gue buat negur lo. Lagian, lo sendiri, kan, yang tadi minta ditegur?"
"Hah?"
"Udah sana, balik." Raka melambaikan tangan. "See you tomorrow, Tar.”
Tara terpaku di posisinya, menatap punggung jaket biru tua itu yang perlahan menghilang di tangga peron seberang.
***
“Bu, kayaknya laptop Dika memang udah umur, deh. Masa udah diservis masih suka nge-hang sendiri? Beberapa kali malah tiba-tiba mati lagi.”
Jemari kurus Nita yang sedang mengiris bawang bombai di dapur mendadak berhenti. Aneh. Hatinya terasa ikut teriris. Setiap kali si bungsu mengeluh soal kebutuhan finansial, rasa penyesalan selalu menyergap hatinya bagai seorang penyamun. Datang tanpa aba-aba, merampas rasa aman dari persinggahannya.
Biasanya kalau ada Dirga di rumah, suaminya itulah yang akan pasang badan memberi omelan tegas, membuat anak-anak merasa bersalah karena telah menyusahkan orang tua. Sementara bagi Nita sendiri—dan ia tahu, bagi suaminya pun sama—keadaan merekalah yang sebenarnya menyedihkan. Orang tua yang belum berkecukupan. Orang tua yang gagal. Orang tua yang tidak bisa menghadiahi buah hatinya kehidupan yang layak.