Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #17

Arah yang Hilang

"Kamu memang beda jauh sama mas-mu! Kayak jempol sama kelingking, tahu?!”

Suara orang yang paling jarang bicara di rumah itu mendadak menggelegar, memantul di antara dinding ruang tengah yang sempit. Kalimat itu sukses membuat Dika menciut, persis seperti daster murah yang mengerut saat pertama kali dicuci. Ketegangan yang bertengger sejak Dika sering pulang larut, akhirnya menemui titik didihnya.

Hari apes memang tidak pernah tertulis di kalender. Dika sebenarnya hanya berniat mengadu pada ibunya siang tadi. Ia tahu Raka tidak akan pernah tega menolak jika Ibu yang sudah meminta tolong. Dika sengaja melupakan kesepakatan tempo hari, saat Raka mewanti-wantinya lewat telepon agar langsung bicara pada sang kakak jika butuh apa-apa, tanpa perlu melibatkan Ibu. Namun, sial bagi Dika, Dirga keburu mendengar rengekannya sore ini.

“Kok bisa udah diservis masih rusak terus?! Kamu gak tahu Raka itu pontang-panting cari uang di Jakarta? Sampai buat mampir pulang ke sini aja dia gak bisa karena dikurung kerjaan!”

Tangan Dirga mengepal erat di atas meja, urat-urat di lengannya menegang seiring nada bicaranya yang meninggi di tiap ujung kalimat.

“Yah, laptop Dika yang sekarang emang gak menunjang buat tugas kuliah,” Dika mencoba membela diri. “Itu kan juga cuma laptop hibahan bekas Mas Raka.”

“Ya kamu usaha, dong! Kamu kira dulu laptop Raka dari mana kalau bukan hasil dikumpul dari uang kerjanya sendiri? Dia gak pernah minta."

“Tapi kebutuhan spesifikasi laptop jurusanku gak secetek jurusan Mas Raka dulu!” Dika menyalak frustrasi, menekan ujung kalimatnya hingga bibirnya maju. “Beda!”

“Kalau tahu begitu kenapa gak cari jurusan yang ramah di kantong?!”

“Sudah, Mas, sudah,” Nita bergegas melerai. “Dika—”

Mulut Nita seketika tertahan. Kata-katanya menguap begitu melihat air mata yang sudah mengambang di pelupuk mata putra bungsunya. Jelas sekali ia menahan yang dihancurkan secara verbal oleh ayahnya sendiri.

BUUUGH!

Tanpa aba-aba, Dika meninju dinding yang berdampingan dengan pintu kamar bekas Raka. Dulu kamar mereka bersebelahan, sebelum akhirnya kamar kakanya itu dialihfungsikan menjadi tempat penyimpanan barang seperti galon dan tumpukan bahan makanan.

"ANAK INI!" bentak Dirga.

Tanpa memedulikan gertakan itu, Dika bergerak cepat, setengah berlari meninggalkan ruang tengah. Sebuah makian pelan lolos dari bibirnya, yang untungnya hanya terdengar di telinganya sendiri. Ia merenggut kunci dari saku celana jinsnya, lalu menyambar jok motor. Bunyi knalpot modifikasi itu mengerang kasar, merusak ketenangan gang rumah mereka sore itu. Kepulan asap hitam tipis tertinggal di udara, bersamaan dengan sisa omelan orang tuanya yang diabaikan begitu saja di ambang pintu.

Dirga mengusap keningnya yang berkerut dalam. Jantungnya masih berdegup kencang oleh sisa amarah—entah sepenuhnya pada Dika, atau sebenarnya pada ketidakmampuan dirinya sendiri.

“Sudah, mungkin dia stres laptopnya rusak lagi. Aku bikinin teh hangat ya, Mas,” Nita cepat-cepat bertindak. “Lauk makan malam belum matang, tapi tadi aku sempat goreng pisang. Lumayan buat ganjal perut.”

Dirga hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh. Ia berjalan lesu, kembali duduk di atas kursi rotan ruang tamu yang mulai ringkih. Dalam diam sembari menenangkan emosi, Dirga terpikirkan sesuatu.

Lihat selengkapnya