Menginjakkan kakinya kembali ke rumah membuat Tara sekonyong-konyong diberondong oleh rentetan pertanyaan usil dari papa dan mamanya. Kedua orang tuanya bertingkah seperti pengintai andal yang penasaran dengan sosok pria yang mengantarnya pulang menggunakan motor bebek merah hati. Tara hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri menghadapi interogasi sepihak tersebut. Syukurnya basa-basi ajakan mampirnya tidak nekat disetujui Raka. Jika cowok itu benar-benar mampir, ia yakin urusannya pasti akan jauh lebih panjang dan rumit dari ini.
Berlainan dengan Raka. Dalam sekejap, ia sudah tidak punya ruang di kepala untuk memikirkan hal itu lebih dari seperlunya. Isi pikirannya sedang bercabang hebat. Bahkan kalau dipikir-pikir, keinginan untuk memiliki hubungan serius hingga melangkah ke jenjang pernikahan masih berada di ujung jalan yang terlampau jauh. Masih ada keperluan finansial keluarga di Bekasi yang terasa tidak pernah ada habisnya untuk ia topang sendirian. Namun, mau sampai kapan?
Dan sekarang, bagaikan petir di siang bolong, ia melihat adiknya di daerah Tangerang Selatan. Raka tidak percaya dengan penglihatannya sendiri, tapi makin diperhatikan, makin jelas kalau itu Dika. Berbekal rasa ingin tahu yang besar, akhirnya Raka mampir ke kafe itu. Ia memesan segelas es kopi hitam untuk mendinginkan kepalanya yang mendadak luar biasa panas. Area kafe itu cukup luas dan bising. Di bawah redupnya lampu gantung, suara obrolan pengunjung dan musik saling bertumpuk, membuat Raka tidak perlu bersusah payah menyembunyikan diri di salah satu sudut meja yang gelap.
Sayup-sayup di antara dentum musik, pendengaran Raka menajam saat menangkap obrolan yang melibatkan dirinya di meja seberang.
“Untung Mas lo percaya aja soal servis laptop itu,” celetuk salah satu teman Dika.
Dika tertawa miris. “Tapi jadinya apes, laptop gue sekarang jadi mati total beneran. Mana tugas kuliah di situ semua.”
“Lo backup, gak?”
“Untungnya beberapa ada di cloud. Sedia payung sebelum hujan. Tapi beneran apes,” Dika mengarahkan tangan untuk menggaruk asal kepalanya. “Waktu gue bilang servis kemarin aja udah diminta bonnya. Kalau sekarang tahu uangnya gak dipakai buat servis, bisa panjang urusannya. Lah, orang bonnya aja gue bikin sendiri.”
Tawa kecil langsung pecah di meja perkumpulan kaus metal itu.
Mendengar itu semua, Raka sadar betapa naifnya ia selama ini. Mungkin saja hal-hal darurat yang disebutkan keluarganya memang bertujuan memeras dirinya sebagai tulang punggung.
“Makanya gue bilang dari awal, mending lo ngomong terus terang,” ujar laki-laki bertubuh tinggi yang sejak tadi lebih banyak diam di meja Dika. Wajahnya paling serius dibanding yang lain. “Lo bohong sekali, besok harus bohong lagi.”
“Iya, iya, Pak Ustaz.” Dika menjawab malas.
“Serius gue, Dik.”