“Bu, gak usah sampai gadai emas segala.”
“Tapi laptop Dika itu rusak, Rak. Sudah dari kemarin dia gak pulang ke rumah karena berantem sama Ayah.”
Raka memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Percakapan di telepon sepulang kerja dengan membahas hal-hal seperti ini terasa terlalu berat untuk bisa ia toleransi malam ini. Untungnya, urusan penggajian karyawan kantor pusat sudah beres tadi sore, menyisakan proyek gathering yang tinggal dua minggu lagi menuju hari H.
“Kok bisa berantem?” tanya Raka lagi, berusaha menahan emosinya agar tidak meledak.
“Ya, itu. Kamu tahu sendirilah Ayahmu gimana kalau bicara. Keras kalau sudah punya pandangan, padahal sebenarnya tetap gak tegaan. Jadi, Ayah mau pakai sisa uang pensiunnya buat tambah-tambahan beli baru.” Suara Nita terdengar setengah berbisik di seberang sana. Kentara sekali sedang sembunyi-sembunyi agar suaminya tidak mendengar jika pulang lebih awal.
Raka bahkan belum sempat membersihkan badan dari pekatnya polusi Jakarta. Kemeja kerjanya masih terkancing rapi sampai atas, tapi isi pikirannya sudah telanjur berantakan. Konyol. Rasa kecewa dan amarah yang sempat mengendap setelah kejadian di kafe tempo hari, kini kembali menjalar panas di dalam darahnya.
“Bu, gak usah jual emas. Gak usah pakai uang pensiun Ayah. Dan gak usah beliin laptop Dika dulu," tekan Raka.
“Tapi, Rak ... anak itu gak pulang-pulang,” Nita mulai terisak pelan. “Pesan dan telepon Ibu gak ada yang dijawab sama dia. Mau cari ke mana lagi? Nomor telepon teman-temannya aja Ibu gak punya satu pun. Salah Ibu.”
Mendengar kepanikan ibunya, rasa bersalah mendadak menutupi sebagian besar amarah yang Raka rasakan sebelumnya. Di saat sang ibu kalang kabut karena pesannya diabaikan oleh Dika, Raka sendiri justru sengaja mengabaikan adik satu-satunya itu selama berhari-hari. Seketika ia tergugah untuk membuka kembali kontak Dika yang sengaja ia sembunyikan di fitur arsip WhatsApp.
“Bu, nanti Raka kabari lagi, ya. Ibu sama Ayah gak usah bertindak apa-apa dulu di sana.”
“Eh,” potong Nita cepat-cepat sebelum Raka menutup sambungan. “Jangan pakai uang kamu lagi ya, Raka. Biar Ibu sama Ayah yang tanggung jawab kali ini. Kasihan apa-apa kamu terus yang mikirin. Ibu gak tega, kamu jadi gak punya tabungan sendiri.”
Senyum getir Raka mengembang bersamaan dengan embusan napas kasar. Ia tidak tahu harus merasa apa kali ini. Di satu sisi ia terharu, di sisi lain ia merasa sesak karena tahu kebenaran di balik manipulasi adiknya. Tanpa berminat memperpanjang obrolan, ia hanya mengiyakan seadanya, memutus panggilan telepon, lalu segera membuka ruang obrolan dengan Dika.
Isi pesan dari sang adik yang dikirim berhari-hari lalu kurang lebih sama dengan apa yang diceritakan ibunya. Dika butuh uang darurat untuk mengganti laptop, karena laptop hibahan dari Raka sudah mati total dan tidak bisa diselamatkan. Ada sepuluh persen rasa kasihan yang tersisa di dada Raka, tapi sisanya mutlak didominasi oleh kemarahan karena tahu fakta bon servis palsu itu. Raka segera menekan tombol panggilan, menelepon Dika langsung.
Nada sambung berbunyi panjang, lalu berakhir tanpa jawaban. Tiga kali panggilan ulang ia coba, hasilnya tetap sama. Nihil.
Raka akhirnya mengetik sebuah pesan singkat: [Kamu di mana, Dik?]
Masih tak ada respons hingga hari mulai berganti. Raka langsung memutar otak. Pikirannya tertuju pada sekumpulan remaja berkaus metal yang ia lihat bersama Dika di kafe daerah BSD, Tangerang Selatan waktu itu. Ia yakin, adiknya pasti sedang menginap di salah satu rumah mereka. Namun masalahnya, bagaimana cara mencari tahu keberadaan mereka tanpa tahu nama atau kontak satu pun dari teman-teman Dika?