Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #20

Secepatnya

Efek gajian memang magis. Ari yang tadinya kusut, semrawut, dan sering datang pada jam tak menentu, tiba-tiba muncul lebih pagi dengan wajah luar biasa semringah.

Morning, peeps!”serunya ceria. Suaranya menggaung di sepanjang lorong accounting. Namun begitu masuk ruang HRD, langkahnya berhenti. “Moor ... ning.”

Ia menatap Tara dan Raka bergantian dengan senyum penuh arti. Ada sebungkus roti di antara mereka. Keberadaan roti itu memang bukan serta-merta romantis, tapi yang membuat Ari berkesimpulan adalah ekspresi terkejut dari keduanya.

“Santai aja kali, Bro," goda Ari.

“Aku bawa juga kok buat Mas Ari. Nih, buat sarapan,” Tara bergegas menyodorkan sebungkus roti cadangan ke arah Ari demi memotong asumsi. Seketika ia menyesali keputusannya membelikan roti pagi ini jika tahu akan begini. “Beli di stasiun tadi. Enak, kok.”

“Gak usah, gak usah. Gue bukan orang Inggris. Sarapan gue bubur, bukan roti,” tolak Ari melambaikan tangan.

“Halah, Ri,” cetus Raka, memutar kursi rodanya menghadap meja kerja. “Orang mau ngasih mah terima aja. Gak bakal basi juga kalau lo simpan buat camilan sore.”

“Gue gak mau ganggu momen lo berdua aja, sih.” Ari melepas tas ranselnya lalu duduk di kursinya sendiri. Tara hanya mengangguk seadanya, menarik kembali rotinya, lalu duduk kembali ke mejanya.

“Jadi, udah sampai mana kalian? Udah ketemu orang tuanya lo, Rak?” tanya Ari tanpa dosa.

Pertanyaan itu kontan membuat Tara tersedak air liurnya sendiri. Sementara Raka langsung mengernyitkan dahi, menatap rekan kerjanya dengan tatapan kesal.

“Sejak kapan lo peduli urusan orang?” dengus Raka geleng-geleng kepala.

“Gak usah denial begitu, lah ... Eh, apa emang belom resmi?”

“Apanya yang belum resmi?”

Suara berat Danu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang HRD seketika memutus obrolan mereka. Seketika semua beralih ke mode profesional.

“Anu, Pak,” Ari langsung gelagapan, matanya melirik Raka dengan tatapan defensif—sebuah kode tak tertulis yang mengandung arti 'bantuin gue, lo yang tanggung sendiri kalau gak bisa bela gue.'

Membaca gelagat panik itu, Raka spontan memotong, “Dokumen perjanjian sama pembicara, Pak. Waktu itu kayaknya baru by email aja, belum sempat kami cetak.”

“Waduh. Tapi urusan DP-nya udah dibayar belum, Ri?” tanya Danu beralih menatap Ari.

“DP sudah, Pak. Sisanya baru dilunasi hari H pas acara,” jawab Ari secepat kilat, mencuri kesempatan untuk bernapas lega.

“Kok bisa sudah bayar tapi belum ada dokumen hitam di atas putih?” Danu mengernyit.

Ari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pura-pura mengingat draf administrasi di komputernya. “Udah, kok. Udah ada, Rak,” katanya pada Raka. “Saya yang lupa taruh. Udah aman kok, Pak. Maklum, habis huru-hara urusan payroll bulanan suka mendadak lupa ingatan.”

Lihat selengkapnya