Tinggal hitungan hari bagi Tara untuk menyelesaikan masa kontraknya di Verdan. Sebentar lagi rutinitas komuter harian yang super melelahkan ini akan berakhir. Namun, ledekan asal ceplos dari Ari pagi tadi tentang "kompak kayak pengantin baru" dan "sudah ketemu orang tua" benar-benar menyisakan rasa tidak nyaman yang mengganjal di kepala Tara sepanjang jalan pulang.
Sebagai karyawan kontrak, hal terakhir yang Tara inginkan adalah menjadi bahan gosip atau drama tidak bermutu di lingkungan kantor. Ia hanya ingin bekerja secara efisien dan tepat waktu, lalu pulang membawa pundi-pundi bersih. Hal itu pula yang sebenarnya membuat Tara lebih menyukai keadaan mentalnya sebagai pekerja lepas. Tidak terikat untuk waktu yang lama dalam satu waktu dan membiarkan dirinya mengeksplorasi hal-hal baru.
Jauh di bawah alam sadarnya, Tara juga sempat menyayangkan perubahan sikap Raka yang sebenarnya sempat membuatnya menerka-nerka. Tapi omongan Ari justru jadi mempertegas batas aman di antara mereka. Raka murni rekan kerja senior yang andal, dan Tara tidak berniat melintasi sekat profesional itu lebih jauh.
“Nothing to lose. Fokus kerja aja, gak sampai sebulan lagi juga kelar,” gumam Tara mantap pada pantulan dirinya di cermin lemari pakaian.
Namun, menu makan malam yang nikmat buatan ibunya itu ternyata datang sepaket dengan sebuah tugas domestik. Begitu piringnya kosong, sang ibu menyodorkan secarik kertas berisi daftar belanjaan. Ibunya berniat memanggang kue sendiri malam ini untuk dibawa ke acara syukuran tetangga besok pagi. Karena jika harus menunggu suaminya pulang akan memakan waktu terlalu lama, Tara akhirnya mengalah. Ia mengeluarkan motor matik miliknya yang sudah lama menganggur di garasi, bersiap meluncur ke toko bahan kue.
Tara membawa motornya melintasi jalan raya depan kompleks perumahan yang padat oleh kendaraan. Di sela bisingnya klakson dan silau lampu jalan, ingatan Tara tiba-tiba kembali pada momen akhir pekan lalu. Bagaimana tangannya yang terlipat kaku di belakang punggung Raka saat diberi tumpangan ke rumahnya. Bagaimana aroma parfum Raka yang terbawa angin, dan bagaimana suaranya yang tetap terdengar sopan walaupun sedikit meninggi demi mengalahkan raungan knalpot.
Tara buru-buru menggeleng, mengusir kelebatan pikiran itu untuk kembali fokus pada aspal di depannya.
Sialnya, toko bahan kue langganan ibunya ternyata sudah tutup saat ia tiba. Enggan pulang dengan tangan kosong dan membuat ibunya kecewa, Tara menepi di bahu jalan untuk mengecek toko alternatif lain melalui aplikasi peta digital di ponselnya. Beruntung, ada satu toko bahan kue berjarak tiga kilometer dari posisinya yang tercatat masih beroperasi menjelang jam tutup ruko.
Tara segera memutar gas, melesat ke toko kedua tersebut. Ia tiba tepat waktu saat rolling door ruko itu sudah seperempat turun dari tempatnya. Tergesa-gesa ia bergerak cepat menyusuri rak-rak putih, mengambil seluruh pesanan yang tertulis di kertas dari saku jaketnya, lalu menghampiri kasir. Ia kembali ke parkiran ruko dengan menenteng kantung plastik hitam yang kini bergoyang pelan di gantungan barang di motornya.