Kepala Raka terasa seperti mau pecah. Sesi interview maraton dengan empat kandidat Legal yang baru beres menjelang jam pulang tadi benar-benar menguras sisa tenaganya. Tak sengaja mendengar sekelebat obrolan dua karyawan divisi lain di dalam lift tadi—yang sibuk merencanakan agenda nongkrong di kafe sepulang kerja—sempat membuat Raka bergeming lama di atas jok motornya saat tiba di parkiran Stasiun Pondok Ranji.
Tangannya sudah memegang kunci kontrakan di dalam saku. Tubuhnya yang kian ringkih menuntutnya untuk menyerah malam ini, masuk ke kamar, dan tidur lebih awal. Ketidakmampuannya untuk pulang cepat sore tadi sudah otomatis menyingkirkan opsi kampus Dika sebagai tempat pencarian. Adiknya itu ikut kelas reguler, yang mana jam operasionalnya sudah berlalu.
Namun, mendengar 'kafe' disebut dalam obrolan di lift tadi, terpantik kembali amarah dan kecewa yang sudah mengendap berhari-hari di dadanya. Raka mengatur napas yang memendek, mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia nekat memutar haluan Si Merah membelah kemacetan malam menuju deretan ruko BSD malam ini.
Begitu tiba di tempat, degup jantung Raka berdebar liar. Bagai elang yang sedang mengincar mangsanya, matanya menyapu ke seluruh penjuru kafe.
“Dika, Dika, Dika ….” mulut Raka merapal.
Begitu melihat anak berbaju putih dengan gambar sablon sebuah kaset di kaosnya–kaos Dika yang sering Raka lihat kalau di rumah Bekasi–saat itulah kaki Raka dengan sendirinya bergerak maju.
Tak ada menguping lebih dulu, tak ada keinginan untuk menawar apa pun selain langsung menyuruh adik semata wayangnya itu pulang ke rumah.
Plak.
Raka menepuk pundak Dika agak keras dari belakang, membuatnya tersentak kaget dan spontan menoleh.
“Mas Raka?” Dika mengerjap, wajahnya seketika pias melihat sosok kakaknya sudah berdiri di sana dengan kemeja kantor yang kusut dan sorot mata yang luar biasa dingin.
“Kenapa gak pulang-pulang?”
“Bang Toyiiiib, kali, ah,” seorang teman Dika menyahut, yang kontan langsung mendapat tatapan geram seorang kakak yang muak pada adiknya.
“Mas Raka ngapain di sini?” Dika kembali mengambil alih perhatian Raka. “Kok bisa tahu?”
“Apa itu pertanyaan yang tepat buat sekarang?”
Sekumpulan teman Dika yang mengenakan kaus metal serentak menghentikan tawa mereka. Atmosfer riang yang tadinya mengisi ruang, sekarang berubah menjadi canggung dan senyap tegang. Salah satu teman Dika yang bertubuh tinggi bahkan langsung mematikan rokoknya, menyadari ada badai yang siap pecah di depan mata mereka.
Dika menenggak ludahnya kasar. Egonya di depan teman-temannya membuat remaja itu mencoba memasang wajah menantang sembari mengempaskan ponselnya ke meja. “Gak ada yang suruh Mas Raka ke sini. Jadi yang balik sekarang harusnya bukan aku. Gak usah bikin malu aku di sini,” bisiknya ketus.
“Dika!” bentak Raka.
Dika mendecak. “Udahlah sana! Aku gak peduli!”