Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #23

Sudah Pulang

Aroma mentega sudah memenuhi seisi rumah sejak subuh. Ibunya sengaja bangun lebih awal untuk memanggang kue bolu sifon pandan pesanan tetangga sebelah rumah yang baru saja melahirkan. Sisa adonan yang berlebih kemudian dipanggang kembali dan dimasukkan ke dalam wadah plastik kecil yang ringkas. Begitu Tara selesai membersihkan diri, sang ibu langsung menjejalkan kotak mika berisi potongan bolu hangat itu ke dalam tas jinjing kerjanya agar bisa dibawa sebagai camilan untuk rekan kantor.

Tara sebenarnya sempat mati-matian menolak. Enggan mengulang kecanggungan tempo hari, saat roti sarapan yang ia bawakan malah berakhir menjadi bahan ledekan asal ceplos dari Ari. Namun, karena ibunya terus memaksa dan berkata bahwa ukuran wadah plastiknya cukup kecil dan muat dalam tasnya, Tara akhirnya mengalah. Untungnya, kue itu tidak hancur meski tubuhnya sempat terimpit oleh punggung besar seorang penumpang lain di KRL.

Setibanya di kantor, rasa tidak nyaman lekas merayapi dada Tara. Fokusnya terus terganggu oleh potongan ingatan tadi malam. Bayangan keributan di kafe itu tak mau enyah dari kepalanya. Ia tidak tahu bagaimana kondisi emosi Raka hari ini setelah kejadian yang tampak menggucang mental siapa pun yang melihatnya. Tapi setidaknya... mungkin kue bolu ini bisa menghibur, Tara mencoba tersenyum.

Melesat cepat menuju pantry, Tara mengeluarkan kotak berisi bolu sifon pandan itu dari dalam tasnya dan menyimpannya di dalam kulkas kantor. Napasnya baru berembus lega setelah terpikir untuk membagikan kue itu juga pada Ari dan Danu, agar tak memicu kesalahpahaman lagi.

Namun, kursi di sebelahnya ternyata masih kosong.

Karena terpatok pada jadwal kedatangan KRL yang sama setiap pagi, jarak waktu ketibaan Raka dan Tara biasanya tidak pernah berbeda jauh. Kadang Tara tiba sepuluh menit lebih awal, kadang sebaliknya. Namun kali ini, kursi kerja Raka tetap kosong hingga jam masuk kantor resmi berlalu. Hingga Ari tiba. Bahkan, hingga Danu sudah ada di ruangannya sejak setengah jam lalu.

“Ke mana si Raka?” gumam Ari.

Pertanyaan spontan itu membuat Tara refleks mengangkat bahu pendek, mengisyaratkan gestur cuek. “Ggak tahu, Mas.”

“Gaj ada nge-chat lo?” selidik Ari menoleh.

“Aku gak sedekat itu sama Mas Raka sampai harus dikabari urusan absen, Mas Ari,” jawab Tara datar, berusaha mempertahankan benteng profesionalnya.

“Yee... dekat juga gak apa-apa kali, gak ada yang larang ini,” cengir Ari usil.

Tara memilih mengabaikan ledekan tersebut, menolak memberikan reaksi emosional apa pun. Suara ketukan papan tik miliknya dan milik Ari menjadi satu-satunya latar suara di dalam ruangan HRD yang senyap. Ketidakhadiran Raka yang tidak biasa hingga menjelang jam makan siang ini terasa makin janggal bagi Tara, terutama karena ia tahu persis apa yang terjadi tadi malam.

“Raka gak masuk hari ini,” cetus Ari tiba-tiba tanpa diminta, beberapa jam kemudian.

Tara terkesiap, nyaris tertangkap basah. Detik sebelum Ari membuka suara, sepasang matanya memang sedang menatap lurus ke arah meja kosong milik Raka.

“Kenapa, Mas?” tanyanya sekalian, berusaha senetral mungkin.

Lihat selengkapnya