Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #24

Bertumpuk dan Bercabang

Kembali ke rutinitas harian sebagai HRD Verdan, Raka yang belum sepenuhnya pulih dari beban mental yang hinggap di dada akhirnya tiba di kantor. Tak lama usai keluar lift, ia tak sadar bahwa punggungnya sedang ditatap lurus oleh Tara dari kejauhan. Sorot mata perempuan itu memancarkan rasa lega, sekaligus sedikit iba. Tara baru saja keluar dari ruang toilet saat Raka melintas di depannya. Alih-alih menyapa di lorong yang masih sepi, Tara memilih untuk membuntutinya dari belakang dalam diam.

“Eh, Tar. Pagi,” sapa Raka lebih dulu setelah menggeser kursi kerjanya. Wajahnya masih tampak lesu untuk ukuran sepagi ini.

“Pagi, Mas. Udah sehat?”

Better,” Raka mengeluarkan laptop dari dalam tas ransel hitamnya lalu membukanya. “Kemarin gimana? Di kantor aman-aman aja, kan?”

“Ya... biasa, Mas.” Tara menata beberapa berkas cetak di mejanya. “Mas Ari sempat nyari draf summary review interview posisi Legal kemarin siang, tapi aku bilang aku gak tahu.”

“Oh.” Raka mengangguk singkat. Untung saja kemarin sore ia membawa pulang laptop pribadinya ke kontrakan, jadi saat Ari menerornya lewat pesan WhatsApp, ia bisa langsung mengirimkan file tersebut tanpa perlu banyak bicara. “Sorry ya, Tar, jadi ngerepotin lo kemarin.”

“Mas Raka, kan, izin sakit,” Tara menatapnya sekilas. “Gak perlu minta maaf untuk hal yang di luar kendalimu.”

Jawaban itu membuat jemari Raka yang sedang menekan tombol daya laptop seketika berhenti. Hanya kalimat sederhana, tapi entah mengapa sudah begitu lama tidak pernah didengar oleh telinganya sendiri. Kalimat yang memanusiakan sesama pekerja urban di tengah kerasnya ekosistem korporat.

“Makasih, Tar,” namun, hanya dua patah kata itu yang akhirnya sanggup keluar dari mulut Raka.

Tara tersenyum kikuk. Pura-pura sok sibuk dengan laptopnya menjadi penyelamat dari jeda yang canggung. Baru kali ini ia mendadak ingin Ari segera tiba demi mencairkan suasana di antara mereka. Jarum jam pendek di dinding kantor masih menunjuk ke angka tujuh, dan jarum jam panjang tepat di angka enam. Masih ada sisa waktu empat puluh lima menit lagi sebelum batas minimal Ari memunculkan batang hidungnya.

“Kemarin ada rapat dadakan dari Pak Danu gak? Gue ketinggalan pembaruan apa aja?” Raka tiba-tiba membuka suara untuk memecah keheningan.

“Gak ada rapat kemarin, Mas. Cuma ... pihak branch Surabaya belum kasih aku data ukuran kaus peserta yang final. Agak susah ya minta tanggapan dari PIC sana? Padahal vendor bilang kausnya harus dicetak paling lambat besok sore. Takutnya nanti proses distribusi logistik ke cabang mereka malah jadi telat.”

“Tapi data dari branch lain udah semua, kan? Udah lo oper data finalnya ke vendor cetak?”

Tara bergegas menenangkan kepanikan seniornya. “Yang lain udah beres semua, kok, Mas. Cuma tinggal sisa cabang Surabaya itu aja.”

Bahu Raka yang menegang refleks melorot. “Ya udah, nanti coba gue bantu follow up langsung ke PIC Surabaya.”

“Gak usah, Mas Raka,” Tara buru-buru menggeleng. “Biar aku coba hubungi lagi nanti siang. Kemarin PIC-nya bilang lagi ada kunjungan, mungkin memang belum sempat buka email kantor.”

Raka mengangguk paham. Meski begitu, jemarinya di atas papan tik sudah bergerak cepat membuka folder daftar kontak internal cabang Surabaya. Sebuah kebiasaan lama seorang people pleaser yang sulit dihilangkan; jika sekiranya masih bisa dibantu untuk diselesaikan, mengapa harus membiarkan rekan satu timnya menanggung beban itu sendirian?.

“Selamat pagiii," sapa Ari yang baru saja datang.

“Pagi," Raka menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Ari melemparkan tas kerjanya begitu saja ke kursi, lalu menatap Raka dengan cengiran lebar. “Lho, katanya kemarin lo sakit sampai meriang? Udah sehat lo?”

“Makanya jangan bikin gue tambah sakit lagi hari ini.”

Ari tertawa puas mendengar jawaban ketus tersebut. Ia segera mengeluarkan sebuah map transparan berisi tumpukan berkas dari dalam tasnya. “Good news, nih!” Pria itu mengangkat map tersebut tinggi-tinggi di depan Raka dan Tara. “Pembicara sesi kedua udah kirim materi final ke email gue. Vendor backdrop utama juga udah ACC draf desain grafisnya. Sekarang tinggal nunggu Surabaya doang, habis itu kita tinggal hitung hari.”

“Hitung jam, Mas Ari,” ralat Tara datar.

“Ih, serem banget ya lo kalau ngomong, Tar.” Ari bergidik ngeri yang dibuat-buat.

“Memang kenyataannya tinggal seminggu lagi menuju hari H pelaksanaan, Mas,” cetus Tara mengingatkan secara taktis.

Lihat selengkapnya