Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #25

Ukuran yang Salah

Lewat pukul tiga sore saat motor bebek merah Raka mendarat di teras sempit rumah keluarganya di Bekasi. Di sebelah motornya, terparkir pula motor modifikasi milik Dika yang dicat biru tua. Motor butut tua milik Ayah tampak absen, pertanda penggunanya belum tiba di rumah.

“Raka gak lama, Bu. Gak usah repot-repot,” ujar Raka lembut begitu masuk.

Di atas meja kayu yang diapit oleh empat kursi rotan ringkih, sudah tersuguh sepiring risoles hangat, lengkap dengan beberapa buah cabai rawit serta secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan uap tipis. Nita, masih sibuk di area dapur, entah mau mengeluarkan makanan apa lagi dari sana.

“Kamu datangnya dadakan banget, sih, Rak. Ibu kan jadi gak sempat masak apa-apa buat makan siangmu,” sahut Nita dari balik sekat dapur.

Raka berdalih pulang dadakan hari ini karena kebetulan jam kerjanya sedang luang. Padahal di dalam hatinya, ia memang sengaja bergegas demi menemui Dika. Kemarin sore di kantor, Tara yang sama awamnya dengan dirinya soal komputer sempat mengusulkan agar Raka menanyakan langsung pada adiknya merek dan seri apa yang dibutuhkan, daripada nanti berujung salah beli. Apalagi kebutuhan kuliah desain Dika berdasarkan perangkat lunak (software) yang ia pakai di kampus tidak bisa dipilih secara asal-asalan.

Nita kembali ke ruang tengah membawa sepiring bolu ketan hitam dan segelas teh hangat untuk menemani cangkir kopi Raka.

Dengan hati-hati, Raka mulai membuka pertanyaan, “Dika ada di kamar, Bu?”

“Ada.” Nita mengangguk cepat, wajahnya tampak sedikit lelah. “Semenjak pulang dia lebih sering mengurung diri di kamar. Gak apa-apa lah, Rak, daripada dia keluar terus malah berantem lagi sama Ayahmu.”

“Memangnya ribut soal apa lagi, Bu?”

“Yah ... begitu. Ayahmu itu pusing anak laki-lakinya kabur dari rumah seminggu lebih. Belum lagi ditambah perkara soal laptopnya itu.”

“Ibu ... tahu?” tanya Raka, nadanya kian merendah dan jauh lebih hati-hati.

“Tahu apa?” Nita mengernyit bingung.

“Eh—itu. Maksudnya, Ibu sama Ayah tahu laptop Dika kenapa bisa sampai rusak lagi?”

Nita menghela napas panjang, menyeruput teh hangatnya dengan pandangan kosong ke dinding ruang tengah. “Iya, waktu itu katanya udah sempat kamu bantu servis. Tapi maklum sajalah, itu kan laptop bekas pemakaian kamu dulu. Dika punya tugas kuliah akhir-akhir ini butuh laptop yang lebih tahan banting, Rak.”

“Tapi Ibu belum sempat gadai emas, kan? Ayah juga gak pakai uang pensiunnya, kan, Bu?” jawab Raka cepat, ada sesuatu yang menyesak dadanya.

Nita meletakkan kembali gelas tehnya, tersenyum lemah menatap anak sulungnya. “Udah, Rak. Kami gak mau terus-terusan ngebebanin kamu buat urusan rumah.”

“Maksud Ibu? Udah dibeli?” Raka makin gundah saat melihat ibunya mengangguk.

“Laptopnya udah dikasih ke Dika?”

“Ini, Ayahmu lagi di jalan pulang dari toko yang gak jauh dari bengkel.”

“Tapi sebelumnya apa Ayah udah tanya ke Dika, dia butuhnya laptop kayak apa, Bu?”

“Memangnya sebeda-beda itu kayak HP, Rak? Ibu sama Ayah cuma bisa beli dari jumlah uang yang bisa terkumpul aja. Gak tahu-menahu."

Lihat selengkapnya