Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #26

Yang Tersingkap dan Terurai

Setidaknya ada belasan hasil tangkapan kamera Dika yang sudah dicetak dan tergeletak berantakan di atas meja belajarnya. Sebuah stiker beruang berwarna biru yang tertempel di ujung meja menarik perhatian Raka sesaat. Ia ingat betul stiker itu didapatkannya dari sebuah hadiah permen karet belasan tahun lalu, dan ia langsung menempelkannya di sana. Sepucuk senyuman tipis sempat mengembang di wajah Raka.

Meja belajar kayu itu dulu dipakainya sejak awal masuk SMA, sebelum akhirnya diwariskan ke Dika begitu ia lulus. Usia yang terpaut delapan tahun jauhnya membuat barang-barang Raka otomatis jadi hak milik Dika juga.

Sembari duduk di tepi kasur, Raka memperhatikan sekeliling kamar Dika yang jarang sekali dipijaknyaselama ini. Mungkin begitu pula halnya bagi kedua orang tua mereka. Tidak ada satu pun dari keluarga mereka yang tahu bahwa Dika memiliki kemampuan luar biasa yang sekarang sedang berada di dalam genggaman jemari Raka. Foto-foto hasil cetakan ini bukan sekadar bagus secara visual. Masing-masing lembarannya seperti punya nyawa dan cerita.

Ada potret seorang bapak tua penjual balon yang duduk sendirian di bawah jembatan penyeberangan ruko. Balon warna-warni tampak memenuhi bagian atas foto, sementara wajah lelaki tua itu justru tenggelam pasrah dalam bayangan gelap. Ada pula foto anak kecil yang sedang berlari menerjang hujan, tertawa lepas sambil membawa sandal jepit di tangannya. Di foto lain, seorang petugas kebersihan jalan duduk terpejam di atas gerobak sampahnya, disinari oleh pendar cahaya matahari sore yang estetik di sela pepohonan.

Raka membalik lembaran kertas foto itu satu per satu. Komposisinya rapi. Permainan cahaya dan bayangan terasa begitu hidup di bawah radar observasinya. Bahkan beberapa foto membuatnya terhenti lebih lama, karena merasa bagai sedang menonton potongan kisah hidup seseorang, bukan selembar gambar mati.

“Ini ... apa Dika yang motret semua?” gumam Raka takjub dalam kesunyian kamar.

“Motret apa, Rak?”

Suara parau Nita di ambang pintu membuat Raka spontan menoleh. Ibunya berdiri di sana dengan napas yang belum teratur akibat sisa ketegangan tadi.

“Ibu masuk aja,” ajak Raka pelan.

Nita menghampiri meja belajar. Begitu pandangannya menangkap deretan lembar foto yang memenuhi meja, tubuh ibunya seketika ikut mematung.

“Lho ...” Tangan kurus Nita spontan mengambil salah satu foto teratas. “Bagus banget ini, Rak.”

“Ibu sebelumnya pernah lihat foto-foto ini?”

“Belum pernah. Memangnya ini hasil fotonya Dika?” Nita menatap anak sulungnya, seolah mencari kepastian.

“Kayanya begitu, Bu,” jawab Raka, suaranya terdengar yakin sepenuhnya. “Ibu sama Ayah ... emang udah lama gak pernah masuk ke kamarnya Dika, ya?”

Nita menyunggingkan senyum hambar mengandung sesal. “Dika itu paling gak suka kalau kamarnya diberesin orang lain, Rak. Katanya nanti letak barang-barangnya suka mendadak pindah.”

Padahal bukan jawaban itu yang sebenarnya ingin Raka tanyakan, melainkan soal perhatian mereka pada anak bungsunya. Pandangan Raka kembali menyusuri area sekitar meja belajar tua tersebut. Selain buku-buku pelajaran, ada beberapa buku panduan fotografi, catatan kecil berisi sketsa komposisi gambar, sampai lembar-lembar kertas coretan lokasi pemotretan.

Tepat di sudut meja, sebuah pigura akrilik kecil membungkus sebuah kartu peserta lomba.

National Student Photography Competition 2026

Nama Peserta: Dika Pratama

Raka menatap kartu itu cukup lama, mencerna realitas tak terduga yang terpampang di depannya.

“Bu ...."

“Iya, Rak?”

“Dika itu diam-diam ikut lomba nasional.”

“Lomba? Lomba apa?”

“Iya, Bu. Ini buktinya,” Raka menunjukkan kartu akrilik tersebut ke depan wajah ibunya. “Foto-foto ini bukan dibuat untuk tugas kuliah.”

Sepasang mata Nita membulat lebih lebar. Binarnya sendu. Bingung sendiri melihat semua itu. “Ibu ... Ibu beneran gak tahu apa-apa, Rak.”

Lihat selengkapnya