Hal yang Raka pikir baik untuk kepentingan bersama justru berbalik menjadi bumerang. Malapetaka. Sebuah titik balik instan yang membuat seluruh dunianya jungkir balik tanpa aba-aba.
Dalam enam jam terakhir, indra penciumannya kini sudah dipaksa beradaptasi dengan aroma tajam cairan disinfektan yang menusuk hidung. Raka duduk membisu di atas kursi plastik yang disediakan bagi penjaga pasien. Di hadapannya, ruang rawat inap kelas III itu berupa bangsal memanjang, bercat putih gading dengan pencahayaan lampu tabung yang terang benderang menusuk mata.
Di salah satu dari enam ranjang besi yang berjejer rapi di ruangan itu, masih terbaring tak sadarkan diri sosok terkuat dalam hidupnya—sang ayah. Pria paruh baya yang biasanya selalu tampil kaku dan tangguh itu kini tampak begitu rapuh dengan selang oksigen yang menyumbat hidungnya. Rasa bersalah menghujam dada Raka berulang kali. Siksaan batin itu kian menyiksa karena ia tahu, dialah pemicu utama yang membuat ayahnya meledak marah begitu hebat hingga kolaps dan harus dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Gorden hijau pembatas di sisi ranjang bergeser pelan. Nita baru saja selesai berbicara dengan perawat jaga di depan koridor. Wajah ibunya tampak luar biasa layu, dengan guratan lelah yang tercetak jelas di bawah kantung matanya yang sembap akibat tangis yang tertahan.
“Raka,” Nita menyentuh pundak anak sulungnya dengan lembut. “Kamu pulang ke kontrakan aja, Nak. Ini sudah larut malam. Besok, kan, kamu harus tetap masuk kerja. Perjalanan dari Bekasi ke Pondok Ranji itu jauh, Ibu gak mau kamu kecapekan."
Raka tanpa ragu menggeleng. “Raka mau di sini dulu, Bu. Temenin Ibu semalaman ini. Malah kalau bisa, Raka mau di sini sampai Dika pulang ke rumah. Biar nanti Dika bisa gantian jaga sama Ibu.”
Nita tidak bisa memberikan reaksi apa pun. Kepala ibunya pastilah sedang dipenuhi oleh badai yang terlampau dahsyat. Putra bungsunya melarikan diri dari rumah, sementara suaminya mendadak jatuh sakit. Dokter jaga tadi memang sempat menjelaskan secara panjang lebar bahwa Dirga mengalami krisis hipertensi ekstrem akibat syok emosional mendadak, yang memaksa tubuhnya melakukan mekanisme pertahanan darurat untuk melindungi otak sehingga langsung kolaps.
Kondisi tak sadarkan diri di atas ranjang besi saat ini sebenarnya murni efek tertidur akibat suntikan obat penenang dosis kuat lewat cairan infus di IGD tadi, sebuah langkah medis untuk menurunkan tekanan darahnya secara aman, bukan karena adanya kerusakan saraf.