Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #28

Ujung Tanduk

Hari Minggu berjalan lambat, membuat Raka merasa terjebak di dalam labirin. Belum ada satu pun akses komunikasi menuju Dika yang bisa ia dapatkan. Kali ini kondisinya jauh lebih parah. Nomor ponsel adiknya sama sekali tidak bisa dihubungi. Meski Raka sempat bersyukur karena masih menyimpan nomor WhatsApp Adit, tapi usahanya tetap berujung nihil. Adit pun mengaku kehilangan jejak dan belum tahu di mana keberadaan Dika saat ini.

[Dit, kalau Dika ada kontak kamu, minta tolong kasih tahu kalau ayahnya sekarang dirawat di rumah sakit. Bilang ke dia buat hubungi saya secepatnya. Makasih banyak ya, Dit.]

Tanpa sadar mata Raka memanas dan berair saat mengetik pesan itu. Luka menganga berpusar di ulu hatinya.

Selama bertahun-tahun, selalu ada jalan keluar yang bisa ia ambil, sekalipun ia harus mengorbankan kepentingannya sendiri. Saat ada kebutuhan domestik mendesak, Raka tidak pernah mengeluh untuk menguras tabungan dana daruratnya. Saat motor bebek milik Dika atau ayahnya mogok, ia rela menunda rencananya untuk membeli sepatu kerja baru. Saat ibunya meratapi pesanan kue yang sepi, ia otomatis memberikan uang bulanan tambahan.

Capek, tentu saja. Namun, setidaknya selama ini selalu ada sesuatu yang bisa ia lakukan.

Kali ini tidak. Raka tidak bisa memaksa Dika pulang secara instan. Ia tidak bisa mempercepat detak kesadaran ayahnya. Dan ia sama sekali tidak akan pernah bisa menghapus rentetan kalimat tajam yang telanjur meluncur dari mulutnya di kamar Dika kemarin sore. Yang tersisa baginya saat ini hanyalah menunggu—dan menunggu adalah satu-satunya hal yang paling dibenci oleh logika Raka.

***

Pukul sembilan pagi berikutnya, Dirga akhirnya mulai membuka kelopak matanya yang sayu. Tatapannya sempat kosong selama beberapa saat, seolah berusaha keras mencerna di mana tubuhnya saat ini sedang terbaring.

“Mas ... udah sadar?” Nita bergegas mengusap pelan wajah suaminya, lalu menoleh panik ke arah anak sulungnya. “Rak, cepat cari dokter jaga di depan!”

Raka beranjak tergesa mencari dokter. Di belakang gorden hijau, Nita tidak hentinya mengucap syukur sembari terus mencengkeram jemari tangan suaminya yang terasa dingin.

Dirga hanya mampu mengangguk lemah. Namun, arah pandangan pertama pria tua itu justru langsung jatuh tertuju pada sosok Raka yang baru saja kembali masuk ke ruangan bersama seorang dokter muda. Begitu tatapan mereka bertumbuk lurus, Dirga melengos, menatap ke sembarang arah. Sikap canggung yang dingin itu justru membuat pilu makin meradang di dada. Ia bisa merasakan pelupuk matanya kembali berair.

Dokter kemudian memeriksa tekanan darah, denyut nadi, serta tingkat kesadaran Dirga secara berkala. “Tekanan darahnya sudah turun jauh, Bu, Pak. Tapi pasien tetap harus diobservasi ketat di sini. Tolong jangan dulu diajak banyak bicara. Hindari pemicu emosi,” pesan dokter sebelum beranjak.

Hindari emosi. Andai penerapannya semudah itu.

***

Mau tak mau, Raka terpaksa harus bertahan satu malam lagi di rumah sakit, melewati pergantian hari menuju Senin pagi. Setiap kali terpikir untuk kembali ke Jakarta demi mengejar absen kantor, ada firasat buruk yang menahannya. Di dalam bayangan batinnya, jika ia nekat pergi sekarang, sesuatu yang fatal akan kembali terjadi pada ayahnya. Mungkin itu hanya rasa cemas yang berlebihan akibat rasa bersalah yang terus menghantui.

Belum lagi perkara Dika. Belum ada tanda-tanda tanda kehidupan atau kabar darinya. Nomor ponselnya tetap mati, dan Adit pun belum mengirimkan informasi baru apa pun. Alhasil, hanya ada Raka dan Nita yang bergantian menjaga Dirga secara konstan di rumah sakit.

Berulang kali ibunya menanyakan apakah tidak apa-apa jika Raka mengajukan cuti kantor darurat secara mendadak, dan berulang kali pula Raka memaksakan senyum sembari menyahut, “Gak apa-apa, Bu. Aman.”

Padahal, pergolakan batin di dalam kepala Raka jelas meneriakkan hal yang sebaliknya. Hari pelaksanaan acaea kini tinggal menghitung hari. Semua detail tugas sedang digarap di venue hotel yang mereka pilih kemarin. Dalam kondisi kritis seperti itu, ketidakhadirannya jelas bukan sebuah kabar baik bagi Danu. Raka benar-benar merasa di ujung tanduk.

Beruntung, ibunya sempat pulang sebentar ke kontrakan Bekasi untuk mandi dan mengambil beberapa potong pakaian kerja yang masih tertinggal di lemari kamar lamanya, sehingga Raka bisa mengganti kemeja kantornya yang sudah kusut.

Lihat selengkapnya