Yang Menungguku Pulang

Lexine Nine
Chapter #29

Kebenaran

Tentu saja Dika tahu apa yang akan menunggunya jika ia pulang ke rumah. Makian dari Ayah. Tatapan kecewa dari Ibu. Dan yang paling berat, wajah Raka yang entah harus ia hadapi sebagai seorang kakak, atau sebagai sosok manusia ideal yang selama bertahun-tahun ini selalu berhasil menjadi pembanding atas ketidakmampuannya sendiri. Maka dari itu, kali ini Dika sengaja memilih memutus semua jalan untuk pulang.

Sejak kali kedua ia melarikan diri dari rumah, Dika sengaja menepi di pinggir jalan untuk mengganti nomor pada kartu SIM lamanya dengan sebuah nomor yang ia beli di pinggir jalan. Begitu layar ponselnya kembali menyala, dunianya seketika terasa mengecil. Tak ada dering telepon masuk, dak ada pula rentetan notifikasi pesan mendesak. Tak ada satu pun orang yang bisa menemukannya lagi.

Selama dua hari terakhir, Dika sengaja menunda kepulangannya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Semalam ia menumpang tidur di kamar indekos milik teman SMA-nya yang masih sesekali bertukar pesan pendek. Malam berikutnya sengaja ia habiskan di jalanan Jakarta yang tak pernah tidur, memotret seadanya menggunakan kamera ponsel. Lampu-lampu kendaraan yang temaram, trotoar jalanan yang basah setelah diguyur rintik hujan, hingga jajaran wajah orang asing yang berlalu-lalang tanpa saling mengenal.

Aneh rasanya. Melalui bidikan lensa, ia justru merasa jauh lebih mudah untuk memahami isi hati orang lain dibanding memahami jalan pikiran keluarganya sendiri.

Bagi Dika saat ini, pulang bukan lagi sekadar soal tempat fisik, melainkan tentang keberanian untuk kembali menghadapi orang-orang yang selama ini paling ia sayangi. Dan sayangnya, sebaris keberanian itu belum ia miliki.

Pengalamannya kabur dari rumah untuk pertama kali dulu membuatnya sudah mengantisipasi situasi dengan selalu menyimpan beberapa baju cadangan di dalam bagasi motor. Hingga begitu hari Senin tiba, ia nekat melakukan mandi di toilet kampus agar tidak terlihat kumal.

Tak sampai sepuluh menit, ritual mandi bebek itu selesai. Dika bergegas menyimpan kembali pakaian kotornya ke dalam bagasi motor, sebelum akhirnya memilih duduk menyendiri di pelataran koridor kampus. Sembari menjulurkan kaki, ia mengecek kembali hasil foto-fotonya semalam di layar ponsel, lalu sesekali membuka peramban untuk memeriksa laman situs web penyelenggara lomba nasional. Pada percobaan muat ulang yang ketiga, pengumuman yang ditunggu-tunggunya sejak subuh akhirnya muncul di layar.

Pengumuman Resmi Pemenang Lomba Fotografi Mahasiswa Nasional 2026

Jemari tangan Dika mendadak berubah menjadi sedingin es. Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, ia perlahan menggulirkan laman situs web tersebut ke bawah. Sepasang matanya menyapu daftar nama pemenang mulai dari baris paling atas.

Juara Satu. Bukan namanya.

Juara Dua. Masih bukan namanya.

Lalu, arah pandangannya mendadak terhenti tegak pada baris berikutnya.

Juara Tiga: Dika Pratama.

Dika mematung di tempatnya duduk. Otaknya seolah mendadak berhenti bekerja menerima hantaman kejutan. Ia membaca deretan nama itu sekali lagi, lalu sekali lagi untuk memastikan penglihatannya tidak keliru. Itu benar-benar namanya. Baru kali ini di dalam sejarah hidupnya, ada rasa bangga yang meledak-ledak kala ia melihat namanya sendiri tercetak di sebuah pengumuman. Di bagian kolom bawah, tertera detail hadiah yang berhak diterima oleh para pemenang kompetisi.

Juara III memperoleh uang pembinaan sebesar Rp8.500.000, trofi, serta sertifikat penghargaan nasional.

Dika menatap nominal angka tersebut dalam diam untuk waktu yang lama. Jumlah itu tentu belum akan cukup untuk membeli laptop berspesifikasi tinggi yang ia butuhkan untuk tugas desain grafisnya. Namun setidaknya... ia akhirnya berhasil membuktikan kepada dunia bahwa selama ini ia tidak sedang membuang-buang waktu dengan hobinya.

Kalau saja... kalau saja kabar kemenangan ini datang dua hari lebih cepat, batin Dika getir, dadanya mendadak terasa sesak mengingat amarah ayahnya sore kemarin.

“DIK!”

Suara lantang memanggil namanya darikejauhan. Adit berlari kecil sembari mengangkat sebelah tangannya. “Anjir! Akhirnya ketemu juga lo di sini!”

Dika buru-buru menyeka sudut matanya yang sempat basah, lalu memaksakan sebuah senyuman lebar saat temannya itu tiba di depan mata. “Dit ...” Dika langsung menyodorkan layar ponselnya yang masih menyala. “Gue menang, Dit.”

Adit membaca teks di layar tersebut sekilas. “ASTAGA! Lo beneran dapet Juara Tiga, Dik?!” Adit menepuk-nepuk pundak Dika berkali-kali dengan heboh. “Gue bilang juga apa! Mata lo kalau membidik objek lewat kamera itu emang beda kelas, Dik!”

Lihat selengkapnya