Berbekal informasi dari Adit soal rumah sakit tempat ayahnya dirawat, Dika langsung datang tanpa pikir panjang. Bolos dua mata kuliah ini adalah bayaran atas sikap kekanakannya. Dan rupanya, kakaknya sudah lebih dulu tahu kalau Adit bisa mencapainya lebih dulu, sehingga memberitahukan bukan hanya rumah sakitnya saja, tapi persis nomor kamarnya. Begitu mendapati sang ayah terbaring di salah satu bangsal, badai keraguan bersemayam di dadanya, membuatnya tak mampu bahkan untuk sekadar menyapa.
Selagi termangu di tengah bau cairan disinfektan dan pendar lampu putih di sepanjang ruang inap, suara teriakan ibunya membuatnya terlonjak kaget.
"Dikaaa!"
“Bu ... Ayah kenapa, Bu? Gara-gara Dika—”
“Sudah,” Nita langsung menepuk punggung putra bungsunya, menyuruhnya berhenti. “Ayah udah sadar, lagi istirahat. Gak boleh banyak pikiran. Kamu juga. Raka juga.”
Mata Dika jadi bertumbukan dengan Raka.
“Dik. Mas Raka mau ngobrol,” ucap Raka canggung. Sebenarnya ia sendiri bingung ingin berkata apa, tapi jelas harus ada yang dibicarakan di antara mereka.
“Hmm,” jawab Dika setenang mungkin. Mereka lantas saling berpamitan pada Nita sebelum wanita itu masuk ke kamar.
Kembali menuju tempat yang sama di taman belakang—yang untungnya masih sepi—Raka bicara empat mata dengan adiknya. Lidahnya jauh lebih kelu sekarang. Masalah perasaan, satu keluarga itu paling tahu caranya menghindar dari satu sama lain.
“Maafin Mas Raka, ya. Gak tahu apa-apa tapi langsung nge-judge kamu.” Raka mulai bertutur. Diperhatikannya lamat-lamat segala perubahan ekspresi Dika, takut-takut emosinya tidak stabil.
“Harusnya Mas Raka tanya dulu, dengar sisi kamu dulu. Mas malah tahu dari Adit temanmu.”
Dika melipat bibirnya ke dalam. Mengembuskan napas berat. “Salah aku,” ucapnya kaku.
Ada jeda panjang yang tak diisi oleh keduanya, seperti sengaja dibentang untuk memproses perasaan masing-masing.
Hati-hati, Raka berkata lagi, “Soal laptop, kamu gak usah pikirin. Nanti Mas Raka tukar tambah ke toko yang Ayah beli. Spesifikasinya harusnya cukup buat kuliahmu. Tapi kamu buru-buru mau pakai, ya? Mas baru bisa weekend ini.”
Dika lekas menggeleng. “Gak usah, Mas. Aku saja yang tukar tambah pakai uangku.”
“Uang kamu?” Raka mengernyit. Sedetik kemudian langsung membelalak kaget. “Jangan-jangan ... kamu dapat uang dari—”
“Bukan nyolong, enak saja,” potong Dika sinis.
“Siapa yang mau nuduh kamu nyolong, Bocil,” Raka tertawa. “Kamu menang lomba itu? Yang temanmu bilang?”
Dika mengangguk ragu.
“Juara berapa?”
“Juara tiga.”
Raka langsung mengacak asal rambut ikal adiknya itu. Rambut yang selalu mengingatkannya pada sang ayah, ikal dan mengembang. Sementara Raka menuruni rambut dari Nita yang lurus dan jatuh. Dan mereka pun sama-sama tahu, bukan hanya fisik yang mirip.
“Kamu diam-diam jago foto, ya,” Raka tersenyum bangga. “Dapat berapa kamu?”
“Yah, lumayanlah."