Rasanya, belum sepenuhnya nyawa Raka terkumpul pagi itu. Entah tertinggal di kasur kontrakan, di lorong rumah sakit, di perjalanan panjang Bekasi-Pondok Ranji, atau di tengah padatnya gerbong kereta jalur hijau. Meski begitu, lelah yang menggelayuti tubuhnya sama sekali tidak memengaruhi suasana hati. Tiga perempat beban di dadanya sudah terangkat sejak kemarin sore, terutama setelah Dika memutuskan pulang dan menawarkan diri secara sukarela untuk menggantikan posisinya menjaga Ayah bersama Ibu di rumah sakit.
Beban Raka kini murni soal situasi kantor. Tidak masuk dua kali berturut-turut dalam waktu yang berdekatan saat menjelang acara besar tentu bukan hal yang tepat bagi reputasi profesionalnya. Benar saja, atmosfer akrab yang biasa ia rasakan di ruangannya sendiri mendadak berubah canggung. Ari sudah datang lebih dulu dengan raut wajah masam, melemparkan sindiran kaku tentang jadwal rapat MC yang terpaksa diatur ulang karena harus mengurus vendor yang datang ke hotel.
Meski Raka sudah meminta maaf secara terbuka dan menjelaskan kondisi pemulihan ayahnya, ketegangan tak kasat mata tetap menggantung tebal. Selepas Ari bergegas pergi ke lapangan, barulah Tara bersuara. Selama ketidakhadiran kemarin, Ari terus-menerus mengeluhkan padatnya beban kerja hingga desas-desus itu sampai ke telinga Danu. Hal itu membuat Raka paham mengapa Danu mengabaikan pesannya, dan topeng yang Ari pakai. Rasa tidak enak pun merambati hatinya hingga ekspresinya berubah sendu.
Namun, di bawah tatapan kritis Tara, Raka perlahan tersadar akan satu hal penting. Memahami tabiat buruk rekan kerja dan membiasakan diri untuk selalu dirugikan demi kenyamanan mereka ternyata adalah dua hal yang berbeda. Benteng pertahanannya sebagai people pleaser yang kaku perlahan runtuh, berganti menjadi sebuah prinsip baru untuk mulai berani menentukan batas yang sehat bagi dirinya sendiri.
Selebihnya, interaksi di antara Raka dan Tara bergulir jauh lebih santai. Melalui sisa obrolan soal status pekerjaan lepas Tara yang akan segera habis dalam hitungan hari, kecanggungan di antara mereka akhirnya resmi menguap tanpa sisa. Sisa hari di minggu tenang itu pun bergerak dengan ritme yang luar biasa cepat tanpa ada drama yang berarti. Semua detail logistik konsumsi, draf registrasi, hingga koordinasi final berkas peserta dari semua cabang berhasil mereka eksekusi bersama secara rapi di belakang layar.
Hingga tanpa terasa, hari pelaksanaan acara tiba.
***
Panitia mengenakan seragam polo hitam berlogo Verdan. MC mencoba mikrofon untuk terakhir kalinya. Musik instrumental diputar pelan mengisi ruangan yang mulai ramai. Raka berdiri di dekat pintu masuk bersama Tara sembari mengecek list kesiapan acara. Di sisi lain ruangan, Ari terlihat mondar-mandir membawa handy talky. Sesekali menghampiri MC. Energinya tidak ada habisnya.
Pukul delapan tepat, Danu datang bersama beberapa jajaran direksi. Suasana langsung berubah lebih formal. Acara resmi dimulai. Untuk beberapa jam pertama, semuanya berjalan nyaris sempurna. Opening video berhasil diputar tanpa kendala. Sambutan direksi berlangsung sesuai jadwal. Sesi pertama selesai lima menit lebih cepat dari rundown. Raka mulai berpikir mungkin kekhawatirannya selama beberapa hari terakhir terlalu berlebihan.
Sampai menjelang sesi kedua. Seorang staf hotel berlari menghampirinya.
“Mas Raka.”
“Iya?”
“Ruangan breakout belum siap.”
Raka spontan menoleh. “Belum siap gimana?”
“Kursinya masih model classroom.”
"Memang ganti?"
"Iya, kan, waktu itu terakhir sama Mas Ari yang bilang kalau lebih cocok round table."
Dada Raka langsung turun. Harusnya sejak subuh tadi ruangan itu sudah diubah. Ia segera membuka denah di ponselnya. Benar. Dari rapat terakhir yang Ari beri tahu dengan anak acara, ruangan itu dialokasikan untuk diskusi pimpinan cabang. Revisi dadakan menjelang hari H memanglah ide yang buruk. Dan lima belas menit lagi peserta akan masuk.
“Mas Ari di mana?”
“Tadi ke backstage.”
Raka bergegas menuju ruangan itu. Lift yang dipijak Raka terasa lamban setengah mati. Lima belas menit bukan waktu yang panjang dalam sebuah acara. Lima belas menit bisa membuat satu rundown bergeser, satu pembicara menunggu, seluruh peserta yang akan memakai ruangan itu kehilangan ritme.
Begitu pintu lift terbuka, Raka nyaris berlari menyusuri koridor meeting room. Benar saja. Ruangan itu masih menggunakan susunan classroom. Barisan meja memanjang menghadap layar, persis seperti sesi presentasi pagi tadi. Padahal untuk sesi diskusi, seluruh meja seharusnya dibentuk menjadi lima kelompok bundar. Beberapa staf banquet masih sibuk menata gelas air mineral, sama sekali belum menyadari kesalahan itu.
“Mas,” suara panik Raka membuat seluruh kepala menoleh. Banquet captain langsung menghampiri. “Kenapa, Mas?”
“Layout-nya belum diganti.”