Sore itu, anak-anak bermain di halaman surau. Tawa mereka tak reda sejak siang tadi. Tak kenal waktu, tak kenal lelah hanya terlena dalam kegembiraan. Matahari sampai lelah menemani mereka, perlahan undur diri. “Astaghfirullah, sudah jam segini. Ayo lekas, ambil wudhu. Bila tidak nanti kalian diculik Wewe Gombel.” Cetus Pak Malih, anak-anak itu kini berlari terbirit-birit menuju surau. Mata pak Malih menyisir halaman surau, memastikan tak ada yang tertinggal, kemudian matanya memicing. Tunggu ada satu anak yang kelihatan aneh, ia hanya menunduk, tubuhnya bersandar di pilar surau, jemarinya memelintir bajunya yang sudah lusuh. “Ayo, masuklah lekas ambil wudhu bersama teman-temanmu,” tukas pak Malih.
Anak itu perlahan mengangkat kepalanya, air mata sudah tergenang di pelupuk matanya. Dengan lirih ia berkata, ”Apa benar Wewe Gombel suka menculik anak kecil?” Pak Malih menatapnya lama, sempat ragu menjawab, ia hanya mengangguk. Oh, tidak, lihatlah, sekarang anak itu menangis, terus menangis sampai seisi dunia harus tahu kalau Wewe Gombel bisa jadi betulan menculiknya petang ini.
Hans, itulah nama si anak penakut itu. Anak penakut itu kini tumbuh menjadi dewasa yang penakut. Tubuhnya saja yang bertambah besar namun tidak dengan nyalinya. Itu sebabnya, Hans tahu betul bagaimana sengsaranya hidup dalam bayang-bayang makhluk lelembut yang tak jelas dari mana asalnya. Dalam doanya, ia hanya berharap, kelak bila ia sudah memiliki seorang anak, anaknya bukanlah penakut sepertinya. Dan ternyata, doanya di bayar tunai. Tuhan telah menghadiahkannya seorang anak lelaki yang sungguh seorang pemberani.
“Papa, di sebelah lemari ada mbak rambut panjang,” Kata Alan anaknya.
“Oh, begitukah?” Hans tersenyum kikuk, Hans melirik sekilas kamarnya, kosong. Tubuhnya bergidik, setiap sel dalam tubuhnya memberi sinyal untuk lari. Namun Hans memilih untuk mencoba tetap tenang, berusaha setengah mati, lebih tepatnya. “Kalau begitu, bisa katakan padanya Papa ingin tidur sendiri, dan jangan lupa katakan juga di larang masuk ke kamar orang sembarangan. Itu tidak sopan.” Hans cukup bangga setidaknya suaranya tidak bergetar kali ini. Alan berlari masuk kamar, berbincang tak jelas dengan menggerakkan tangannya seakan sedang mengusir nyamuk. Hans sendiri juga enggan mendengar detail percakapannya.