Hans baru saja selesai meeting di perusahaan forwarding yang kebetulan adalah milik kawannya. Ketika hendak pulang seseorang menepuk pundaknya. Ah, itu Bima kawannya, tak lama mereka melipir ke kafe di seberang sana.
“Siapa sangka yang dulunya hanya teman kuliah sekarang menjadi teman bisnis. Tapi kawan macam apa yang membahas bisnis ketika ada secangkir teh hangat tanpa gula? Kau sungguh sudah menua.” Sindir Bima.
“Sama saja denganmu, itu sebabnya kau sekarang selalu membawa obat asam urat di saku kemejamu.” Mereka berdua terkekeh.
“Mau bagaimana lagi, hanya waktu yang tak bisa kulawan. Tapi ayolah aku ini belum setua itu. Justru prime era seorang pria itu ketika ia memasuki kepala tiga.” Hans hanya mengangguk kalau di pikir ada benarnya ucapan Bima. Di usia 20an ia banyak menghabiskan waktu untuk belajar, mencoba bisnis atau hal baru. Kadang juga merutuki pilihan-pilihan gegabah dan naif yang ia buat dahulu. Ya, begitulah semangat seorang anak yang katanya sudah dewasa. Kalau sekarang Hans bisa bergerak lebih tenang, sistematis dan terukur. Karena ia sudah mampu memetakan masa depan dengan lebih baik terlebih karena sekarang juga ada Alan, Hans menjadi tidak hanya sekedar termotivasi dan bertanggung jawab tapi ia juga menjadi sosok yang lebih membumi. Ia ingin menjadi sosok yang mampu membimbing dan diandalkan untuk Alan. “Bagaimana kabar Alan?” lanjut Bima.
“Masih sama, kau tak ingin tanya kabarku?”
“Cih, apa pula yang menarik dari seorang duda macam dirimu. Ah, aku sangat merindukan bocah ceria itu. Untung saja dia tidak seperti Papanya yang membosankan macam kanebo kering.” Mata Hans menatap ganas sedangkan Bima tertawa puas.
Setelah diam sejenak, tatapan Bima berubah. “Tapi, maaf aku tahu ini bukan urusanku tapi apa tak apa kalau terus begini? Mungkin ada baiknya kalau kau coba ke ahlinya. Sebenarnya aku juga mengkhawatirkanmu.“ kata bima.
“Kata dokter, imajinasi anak seusia Alan sedang berkembang pesat. Yang kita kira hantu bisa jadi hanya sebatas teman khayalan dalam dunia anak-anak. Nanti perlahan Alan pasti bisa membedakan antara khayalan dan realitas. Jadi kau tak perlu khawatir.” Kata Hans meyakinkan Bima.
Jam menunjukkan pukul empat sore. Hans dan Bima menghambur ke parkiran.
“Oh ya Hans, ada lagi yang aku kawatirkan?”