Seperti biasa Hans berakhir di toilet, lagi. Dengan Bonaparte menemaninya, sedang sibuk membersihkan diri. “Bonaparte, kau tahu apa yang kualami hari ini?” sedikit memberi jeda, menunngu Bonaparte meresponnya, “Tadi alan melihat hantu anak kecil, lidahnya menjulur pula. Bisa kau bayangkan bagaimana rupanya? Aduh, membayangkannya saja aku sudah merinding setengah mati tetapi tidak dengan Alan. Dia tidak takut, tidak sedikit pun. Dia justru terlihat ... seperti biasa saja? Ah, kurasa karena dia sudah terbiasa melihat yang seperti itu jadi baginya itu bukanlah hal yang aneh. Tapi dia juga seperti iba? Tidak, kurasa itu hanya perasaanku saja.” Bonaparte hanya menanggapi Hans dengan menguap. Melihat reaksi kucingnya itu, Hans dengan terpaksa menutup sesi curahan hati bapak-bapak.
Hans menghabiskan waktu cukup lama di toilet, sampai-sampai kakinya terasa kebas. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan Alan sudah tidur terlelap. Hans mencoba membangunkan Alan untuk mandi, namun Alan berkilah.
“Ayo Alan, kamu harus mandi dulu badanmu kotor. Tadi kamu banyak berkeringat sewaktu main.” Alan mencoba menepis tangan Papanya. Baginya kasur itu sudah menelannya bulat-bulat sehingga membuka mata saja rasanya mustahil. Tapi apalah daya, tubuh kecilnya di angkat dengan mudah oleh Hans. Dalam kondisi setengah sadar, Ia dibawa menuju kamar mandi dan dimandikan paksa. Ia pun mulai meronta dan menangis. Tangisan Alan tidak menghentikan Hans yang tangkas memandikannya.
Meski kini tubuhnya sudah bersih dan wangi bahkan sudah memakai piyamanya ia masih saja menangis. “Sudah selesai, sekarang kamu sudah bisa tidur nyenyak. Maaf jam segini Papa baru bisa memandikan kamu.” Matanya masih basah, bibirnya mirip dengan bebek tapi Alan sudah tidak merengek lagi. Hans, mengelus kepalanya dan menemaninya sampai tertidur.
Kalau diingat dulu Hans yang selalu kesulitan tidur. Kala itu Alan yang masih bayi tak ingin lepas dari gendongannya. Itu momen yang manis, tapi di balik momen itu ada jenggot yang tidak di cukur, rambut acak-acakan, baju yang terkena tumpahan susu sampai lingkaran hitam menggantung di matanya. Hans mengabaikan malam-malam kurang tidur itu hingga tubuhnya tak lagi mendengarkan kata tuannya. Di kantornya tepat setelah rapat, Hans kehilangan kendali terhadap tubuhnya ia ambruk tak sadarkan diri.
Kelelahan ekstrim, itulah yang terjadi padanya. Tanpa istri dan seseorang yang membantunya. Ia menanggung semua pekerjaan dan tanggung jawab di pundaknya. Ia tahu bahwa hal ini tidak boleh terus terjadi. Setelah itu, ia mondar mandir ke dokter anak untuk berkonsultasi. Dari situ Alan memulai sleep training dan Hans juga mendapatkan rekomendasi baby sitter yang dapat di percaya. Syukur Ibu Hans juga ikut membantu mengurus Alan. Ini semua tidak hanya untuk dirinya tapi juga untuk Alan.