Kejadian di hari itu terus berkelindan dalam pikiran Hans. Apa yang terjadi? Apa itu kerasukan? Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana kalau kejadian kemarin terjadi? Pertanyaan demi pertanyaan menghujani kepalanya bagai gemuruh riuh yang entah kapan berakhir. Menyisakan dirinya yang kini ditemani rasa gusar dan getir dalam hatinya.
Sekarang Hans memiliki kebiasaan baru, yaitu mengecek ponsel. Seakan ponselnya adalah benda paling berharga yang ia miliki. Bahkan di kantornya meski dengan tumpukan pekerjaan yang sudah sedemikian berantakan di kepalanya. Tiba-tiba Hans merasakan sesuatu di keningnya.
“Kalau kita hidup di Barat, maka kepalamu sudah berlubang Hans,” ternyata suara itu berasal dari Bima dengan gestur seperti seorang koboi memegang pistol.
“Ah ... kukira seiring bertambahnya umur seorang pria dewasa tidak lagi terjebak dalam dilema. Tapi melihatmu aku tahu pasti ada sesuatu iya, kan?” lirik Bima. Seperti biasa dia memang paling peka dalam hal semacam ini.
“Ini soal Alan. Kupikir dia hanya mempunyai kemampuan untuk melihat hantu. Meskipun aku harus sakit perut tiap kali dia melihat sesuatu yang tak bisa kulihat, aku tak masalah. Dan semalam aku melihatnya menjadi sesuatu yang lain Bima. Sesuatu yang sangat mengerikan sampai kukira di bukan lagi anakku. Matanya merah menyala, dia juga tidak mengenali suaraku. Meskipun...” Hans menarik napas berat.
“Alan baru berumur lima tahun, aku takut tubuhnya tidak bisa mengimbangi kemampuannya. Aku juga tak paham apa yang terjadi padanya. Aku takut Bima, sungguh. Aku hanya memilikinya.”
Bima mengacak rambutnya ikut frustasi. Dia tak menyangka akan ada hal seperti itu terjadi.
“Aku tau kau tak akan suka ini. Bagaiman ya mengatakannya ...” Bima mengusap bibirnya lalu membenarkan posisinya.
“Hans, dengarkan aku.” Tukas Bima serius. “Ini sesuatu di luar kuasamu, di luar akal sehat kita bahkan. Oleh sebab itu kita harus mencari seseorang yang paham tentang ini?”