Dalam sebuah pertempuran pasti akan di akhiri dengan kekalahan dan kemenangan. Misalnya dalam pertempuran dengan lawan yang kuat maka yang bisa kita lakukan adalah mengincar titik lemah lawan dengan menyerang daerah vital. Pertempuran dengan lawan yang cerdik, jangan mudah terpancing emosi dan buat pola serangan tipuan. Lantas bagaimana bila lawanmu adalah orang kelaparan?
Oh, nahas sekali. Karena kau tak hanya harus mempersiapkan fisik tapi juga hati yang lapang, sangat lapang lebih tepatnya.
Hari ini di Restoran Ikan Bakar Cak Man sedang di serang oleh gerombolan manusia-manusia kelaparan. Promo diskon 50% hari ini terlalu menarik untuk di lewatkan. Dan di dalam pusaran manusia-manusia lapar itu ada para pegawai restoran yang terombang-ambing tak karuan. Contohnya Emilia, entah berapa kali ia harus mengucapkan kata maaf lantaran pesanan para pelanggan tidak kunjung tersaji di meja mereka. Bisa kalian bayangkan kiranya berapa dampratan yang di dapatkannya hari ini? Yang pasti lebih dari gaji yang ia terima.
Jam seakan tidak bergerak, sungguh para pegawai restoran ingin memaki waktu yang kian lama kian melamban macam siput.
Meskipun fisik Emilia sudah dalam kondisi letih, Emilia tetap berusaha melayani sepenuh hati. Mungkin, barangkali dengan melihat ramainya hari ini bisa memberinya kabar baik. Sayangnya, itu hanyalah angan Emilia. Amplop di tangannya telah mengatakan segalanya. Restoran Ikan Bakar Cak Man resmi di tutup.
Emilia yang merupakan tulang punggung utama di keluarganya, telah remuk redam. Sumber penghasilannya telah hilang dan ia harus segera mencari pekerjaan lainnya. Besar harapannya ketika merantau ke Surabaya. Nyatanya, tekad dan kerja kerasnya dikhianati oleh kerasnya tekanan ekonomi.
Di malam itu Emilia terpekur di acara perpisahan sederhana dengan kawan-kawannya. Cak Man sang pemilik hanya mampu memberikan senyuman getir untuk karyawannya, nampak begitu jelas betapa ia menyayangi restoran dan tiap kisah yang ada disana. Meski begitu ia tetap berdiri tegak dan memberikan semangat pada tiap karyawannya. Di momen itulah beberapa kawan Emilia pecah tangisnya. Emilia hanya menatap sekeliling.
Sesampainya di kos, bahkan masih dengan baju kerjanya Emilia menyambar berkas yang ia persiapkan untuk keperluan melamar kerja. Dari ponselnya terdapat notifikasi panggilan untuk interview di sebuah restoran cepat saji. Emilia membenamkan wajah ke ponselnya seakan benda itu adalah jimat. Semua akan baik-baik saja, itu mantra yang selalu ia ucapkan pada dirinya. Karena pada siapa lagi ia mempercayakan hidupnya bila bukan dirinya sendiri?
Kalau saja keberuntungan adalah sesuatu yang bisa dibeli atau setidaknya menjadi hak khusus bagi rakyat miskin karena hidupnya sudah sulit, sialnya tidak keduanya. Semalam dia dipecat esoknya ditampar penolakan. Kemeja putih dan wajah melasnya ternyata tidak mampu menarik simpati pemberi kerja. Jangankan ikut interview, tadi saat pengukuran tinggi badan di pintu masuk ia di suruh putar balik. Perkara kurang dua sentimeter nilainya sebagai calon karyawan pekerja keras, cekatan, tangkas, loyal, ramah, baik hati dan rajin menabung ini sirna.
Akankah Emilia akan bercucuran air mata tentu tidak. Ia justru berselancar dalam berbagai akun pemberi informasi kerja. Mulutnya komat-kamit, matanya jeli melihat persyaratan lowongan pekerjaan, tangannya tangkas menorehkan tinta hitam di notes miliknya.
Setelah 30 menit dia sudah mengantongi 5 tempat baru yang akan ia kirimi berkas lamarannya minggu ini, beruntung 3 diantaranya hanya memerlukan berkas online jadi ia bisa berhemat uang kertas. Kebetulan di perjalanan menuju tempat interview, Emilia melihat 3 toko yang membuka lowongan kerja. Tanpa pikir panjang Emilia menaruh berkasnya disana sebelum pulang.
Hari sudah menjelang sore, tetapi Surabaya masih terasa panas sekali. Tenggorakannya kering dan perutnya sudah berbunyi nyaring sedari tadi. Kepalanya terasa pusing matanya mulai berkunang-kunang.