Yang Tak Terlihat Dan Terlewat

Zsa Zsa Eki Liztyasari
Chapter #6

Pertolongan Tak Di Duga

 “Em, uda jam 11 loh, ayo tidur . Besok bukannya kerjain tes malah ketiduran kamu.” omel Nayla.

“Sebentar lagi selesai, paling cuma perlu setrika baju habis ini.” Hari itu Emilia menginap di kos Nayla sekalian belajar untuk persiapan tes kerjanya besok, karena di kosnya tidak ada Wi-Fi jadi dia kesulitan mendapatkan materi.

Dari hari demi hari menjadi minggu hingga menjadi bulan, Emilia terombang-ambing dalam ketidakpastian. Melihat tanggal yang terus bergulir menjadi momok baru baginya. Emilia tahu betul beban yang ditanggungnya. Dia bukanlah seseorang yang diberkati dengan pilihan. Dan dibalik segala pelik dan pahit hidup hanya mimpinya yang menjadi oasis hidupnya.

Hari ini Emilia berangkat dengan dengan percaya diri. Dia sudah hafal tipe pertanyaan apa saja yang muncul di dalam tes maupun interview. Rasanya hari ini dia akan mendapat kabar baik. Semoga.

“Kamu lupa bekalmu, Em.” celetuk Nayla sembari memasukkan wadah bekal ke dalam tas Emilia.

“Eh, perasaan tadi sudah aku masukkan. Aduh, aku memang pelupa, terima kasih Nay. Doakan aku ya.” Naylah memberinya kedua jempolnya. Saat hendak pergi, Nayla justru memanggilnya.

“Em, aku senang ada kamu disini jadi datang kapan pun kamu mau, ya.” Emilia hanya menelan ludah dan berusaha tersenyum lalu ia pergi.

Emilia menempuh perjalanan hampir satu jam karena demi menghemat dia tidak lagi menggunakan transportasi umum melainkan berjalan kaki menuju lokasi tes kerja. Sesampainya di lokasi wujudnya kusut macam daun kering. Bahkan setelah menegak tuntas satu botol air putih dalam 10 detik, Emilia masih kehausan.

Emilia sungguh terkejut melihat banyaknya pelamar hari ini. Padahal ini hanya lowongan untuk kasir di supermarket lokal. Tes dibagi menjadi 2 sesi, Emilia masuk dalam sesi pertama. Selesai tes dia diam-diam menguping pembicaraan pelamar lainnya, kini ia yakin betul kalau ia akan lolos dengan mudah dan benar saja ia masuk ke tahap berikutnya, interview.

Emilia akhirnya di panggil, dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Begitu pikirnya, dia kira akhirnya semua bisa berjalan lancar. Sayangnya untuk ke sekian kalinya dia menelan pil pahit, sangat pahit.

Penyebab itu semua adalah karena umurnya diatas batas maksimal: Batas usia maksimal usia 25 tahun, bagitu yang dikatakan oleh HRD. Emilia yang berusia 26 tahun memiliki kegigihan, pengalaman, kemampuan juga hasil tes yang baik tidak bisa menyelamatkannya seakan itu semua menguap begitu saja. Belum selesai deritanya, dari layar notifikasi di ponsel ada pesan Mamanya yang meminta tambahan uang untuk membeli keperluan sembako.

Emilia ingin pulang tetapi juga tidak ingin segera sampai di kos. Setiap langkah terasa berat dan perih. Perutnya keroncongan, karena terlalu fokus dia sampai tidak merasakan lapar. Kebetulan lokasi tes kerjanya dekat dengan danau tempatnya sebulan lalu menyelamatkan Alan.

Dia memilih duduk di tempat yang sama. Saat mengambil kotak bekal itu terasa ada yang berbeda. Ternyata di dalamnya ada nugget dan sosis yang banyak. Titik-titik air berjatuhan di kotak bekalnya, Emilia sudah tidak bisa menahan tangisannya. Harusnya kotak bekal itu hanya berisi nasi kecap dengan separuh telur dadar. Ternyata Nayla telah menambahkan lauk untuknya. Di menangis sesegukan sampai tubuhnya bergetar.

“Mba, kenapa nangis?” kata seorang anak kecil yang kini muncul di depannya.

“Alan?” Emilia terperangah, tak percaya dengan apa yang di lihatnya.

Lihat selengkapnya