Di kisahkan ada 4 orang yang terombang-ambing di lautan dalam satu sekoci setelah kapal yang mereka tumpangi sebelumnya karam. Mereka bergantian mendayung berhari-hari dengan harapan bisa sampai di pulau terdekat.
Mereka akhirnya melihat secercah kemilau sinar lampu dari menara mercusuar. Mendayung, terus mendayung. Namun siapa yang mampu melawan kehendak alam? Lautan tidak melepaskan mereka begitu saja. Kapal mereka terbalik dan mereka harus susah payah berenang ke tepi pantai. Meski berhasil, sayangnya hanya 3 dari mereka yang selama.
Kurang lebih seperti itu kisah dari cerita pendek berjudul The Open Boat karya Stephen Crane. Saat ini, bisa di bilang Emilia adalah salah satu dari 4 orang di sekoci itu dan rumah Hans adalah menara mercusuar, dalam arti sesungguhnya.
Bagaimana tidak, di blok perumahannya, rumah Hans meskipun hanya bangunan 1 lantai terlihat terang benderang layaknya orang hajatan. Emilia yakin kalau rumahnya seperti pijar bintang yang bisa dilihat oleh astronot di luar angkasa.
Ah, lalu bagaimana Emilia berakhir di rumah itu? Untung Emilia mengikuti saran Nayla untuk menghubungi Hans, Hans tidak hanya membantunya, tetapi dia juga memberinya pekerjaan! Tanpa pikir panjang maupun basa-basi, baby sitter, itu posisi Emilia sekarang.
Bahkan gajinya lebih baik daripada saat dia bekerja di restoran Ikan Bakar Cak Man. Partner kerjanya pun baik, bukan penjilat, tidak mudah iri dengki, tidak cepu dan tidak pernah bertengkar yaitu: Bu Minah dan Bonaparte. Pekerjaannya juga tidak berat, dia hanya perlu mengurus keperluan dan menjaga Alan agar kejadian bulan kemarin tidak terulang. Emilia juga dengan senang hati membantu pekerjaan Bu Minah sehingga wanita paruh baya itu memiliki lebih banyak waktu untuk bersolek.
“Aih, mana ada tenaga kalau kamu sekurus itu? Ayo, makan yang banyak. Jangan kalah dengan Bonaparte.”
Hubungan Emilia juga baik dengan Bonaparte. Si kucing gembil itu tampaknya tidak keberatan dengan kehadiran orang baru karena kucing itu melihat dirinya sebagai majikan. Oleh sebab itu selama dilayani, tidak akan ada complain.
Emilia bekerja sampai Hans pulang dari kantor. Sekarang Emilia sedang sibuk bermain bola dengan Alan di taman belakang rumah. Ah, baginya Alan adalah anak yang menyenangkan dan pandai. Mereka juga menjadi cepat akrab karena ternyata mereka mirip. Mereka, bisa melihat apa yang seharusnya tidak terlihat. Perbedaan di antara mereka ialah Emilia mengabaikan makhluk-makhluk itu sedangkan Alan hidup berdampingan dengan mereka.
Alan suka sekali berinteraksi dengan para makhluk lelembut itu. Tapi, hanya sebatas itu dan hal yang paling mengganggunya adalah Sosok Hitam yang dia lihat bulan lalu ternyata terus menempel pada Alan bak benalu. Sosok Hitam sangat berbeda dari hantu yang biasa ditemuinya. Sosok Hitam tidak bisa di ajak bicara, hanya padanya Alan tidak berkutik. Anehnya lagi sekarang Sosok Hitam kini benar-benar seperti gumpalan asap, wajah yang dilihatnya dulu tidak tampak.